KabarMakassar.com — Lonjakan kasus influenza (Flu) kembali terjadi di Amerika Serikat menjelang akhir tahun.
Data menunjukkan New York menjadi salah satu episentrum penyebaran, dengan lebih dari 71 ribu kasus flu positif tercatat dalam sepekan hingga 20 Desember. Peningkatan tajam ini memicu kewaspadaan otoritas kesehatan karena diduga berkaitan dengan munculnya varian baru influenza A (H3N2) yang dikenal sebagai Subclade K.
Varian tersebut belakangan ramai disebut sebagai “super flu”, seiring temuan bahwa Subclade K mendominasi kasus influenza pada musim flu tahun ini, khususnya di Amerika Serikat dan wilayah belahan bumi utara.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, SpA, Subsp Respi(K), menjelaskan bahwa istilah super flu muncul setelah analisis genetik menunjukkan dominasi Subclade K dalam berbagai sampel kasus influenza.
“Dari hasil genome sequencing yang dilakukan, terlihat bahwa sebagian besar sampel influenza saat ini disebabkan oleh Subclade K. Karena jumlahnya sangat dominan, kemudian muncul istilah super flu,” ujar Nastiti, Selasa (30/12).
Ia menambahkan, dari sekitar 200 sampel influenza yang diperiksa secara genetik, mayoritas di antaranya menunjukkan varian Subclade K sebagai penyebab infeksi. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa varian tersebut akan menjadi penyebab utama flu musiman.
“Ketika kita lihat hasil pemeriksaannya, ternyata banyak sekali kasus yang disebabkan oleh Subclade K. Itu yang kemudian menimbulkan pertanyaan apakah ini akan menjadi varian mayoritas pada musim flu,” katanya.
Nastiti menegaskan, Subclade K merupakan bagian dari influenza A (H3N2) yang dikenal memiliki kemampuan evolusi tinggi. Virus jenis ini cenderung lebih mudah menular dan cepat bermutasi, sehingga berpotensi menyebabkan lonjakan kasus secara luas.
“Influenza A H3N2 memang dikenal cepat berubah dan mudah menular. Karena itu, jika menyebar luas, risikonya bisa memicu peningkatan kasus yang signifikan,” jelasnya.
Ia mengingatkan, lonjakan kasus influenza berisiko meningkatkan jumlah pasien yang membutuhkan layanan medis, termasuk rawat inap. Selain itu, kondisi ini juga dapat menambah tekanan pada sistem kesehatan, terutama kebutuhan obat-obatan dan alat kesehatan, khususnya di negara-negara yang tengah menghadapi musim dingin panjang dan berat.
“Kalau kasusnya melonjak, tentu dampaknya bukan hanya ke pasien, tapi juga ke sistem kesehatan secara keseluruhan,” pungkas Nastiti.













