KABARBUGIS.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sinjai membeberkan bahwa pihaknya akan berupaya meningkatkan capaian vaksinasi dosis 1, 2 maupun booster. Pasalnya capaian vaksinasi di Sinjai terendah di Sulawesi Selatan.
Hal itu diungkap oleh Dinkes setempat melalui Diskusi Newsroom KabarBugis.id yang digelar secara daring melalui via zoom meeting, Kamis (14/4).
Kegiatan ini resmi dibuka oleh Direktur KabarBugis.id, Rudi Hartono. Hadir sebagai pembicara Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Provinsi Sulawesi Selatan Prof Dr Ridwan Amiruddin, dr Yenni Yusuf Dosen Pendamping Fakultas Kedokteran UNHAS yang juga ahli vaksin dan Kepala Dinas Kesehatan Sinjai, dr Emmy Kartahara Malik.
Kepala Dinas Kesehatan Sinjai, dr Emmy Kartahara Malik yang diwakili oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sinjai, Akhriani mengaku, berdasarkan data yang dipaparkan capaian vaksinasi per 12 April di kabupaten Sinjai berada di tingkat terendah dari 24 Kabupaten di Sulawesi Selatan dengan capaian 79,28 persen dan untuk vaksin dosis booster masih 3,24 persen.
"Sampai tanggal 12 April vaksinasi mencapai 79,28 kabupaten terendah dari 24 Kabupaten dari Sulawesi Selatan, untuk booster masih rendah baru 3,24 persen,” papar Akhriani.
Ia mengatakan adapun beberapa upaya dalam meningkatkan percepatan vaksinasi di kabupaten Sinjai seperti melakukan kolaborasi dengan beberapa pihak, memberikan doorprize saat vaksinasi dan pendampingan vaksinasi.
"Melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi terkait Vaksinasi Covid-19 baik secara berkelompok/komunitas, maupun per individu, dengan menggunakan media Radio Suara Bersatu, TV Sinjai, Sosmed, Sosialisasi Mobile, Brosus, Vlog,” katanya.
“Juga kerjasama dengan TNI/POLRI, BINDA SulSel, PMI, AMPI, KNPI, IMM, Pemuda Pancasila dalam pelaksanaan vaksinasi, Melibatkan seluruh OPD di Kab. Sinjai dalam kegiatan edukasi dan pendampingan vaksinasi dan Pelayanan vaksinasi dilaksanakan dalam gedung dan luar gedung (door to door)," tambahnya.
Anny membeberkan dalam rangka pelayanan vaksinasi terkhusus di kabupaten Sinjai pihaknya mendapatkan beberapa kendala seperti banyaknya informasi hoax terkait vaksinasi dikalangan masyarakat sehingga menurunkan partisipasi masyarakat dan kekecewaan masyarakat terhadap tidak tersedianya dosis vaksin pada tahap awal pelaksanaan vaksinasi.
“Kami juga berharap semua pihak dapat membantu dalam menangkal isu-isu hoax terkait vaksinasi termasuk media massa untuk ikut dalam mengedukasi terkait pentingnya vaksinasi untuk pencegahan Covid-19,” harapnya.
Sementara, Prof Ridwan Amiruddin mengatakan kendala cakupan vaksin cenderung melambat diakibatkan kurangnya ketersediaan vaksin, kendala geografis dan kurangnya pemahaman dari individu maupun kelompok-kelompok tertentu.
"Kendala hoax memang tinggi yang menyerang program ini beberapa akhir tahun ini, kendala cakupan vaksin cenderung melambat baik kendala yang berkaitan dengan ketersediaan vaksin, geografis dan ketidakpahaman individu," ucap Prof Ridwan yang juga ahli epidemiologi itu.
Lanjut, ia menyampaikan terkhusus dosis booster baik di Sulsel maupun nasional masih tergolong rendah dengan capaian di angka 6 persen.
Melalui kegiatan ini, ia pun berharap agar pihak terkait melakukan terobosan baru seperti menjalin kerjasama berbagai pihak hingga ke pengurus masjid dengan pendekatan pendekatan struktural maupun kultural.
Sementara itu, ahli vaksin, dr Yenni Yusuf memaparkan, hoax mengenai vaksin itu sangat merugikan sebenarnya. Nah, langka yang harus dilakukan adalah sosialisasi dan edukasi itu sangat penting dilakukan, apalagi di tengah perkembangan media sosial sekarang.
“Vaksin itu bukan hanya melindungi diri kita dari sebaran Covid-19 melainkan orang-orang dekat kita juga ikut terlindungi,” ungkapnya.
Yenni mengatakan melalui jurnal terbaru efikasi terhadap vaksin tergantung pada lokasi daerah. Karena, meski jenis vaksinnya sama, namun kondisi tubuh manusia itu berbeda, ini lah yang membuat biasanya efek vaksin itu berbeda-beda.
“Itu hampir sama juga, karena itu adalah respon imun tubuh. Jadi tak perlu khawatir terhadap vaksin, baik itu vaksin booster,” pungkasnya.
Dari pantauan diskusi tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dari peserta, baik yang ikut melalui live streaming facebook maupun youtube KabarBugis.













