KabarMakassar.com — Pemilihan ketua RT di sejumlah wilayah Kota Makassar tahun ini berlangsung berbeda dan jauh lebih meriah.
Beragam Tempat Pemungutan Suara (TPS) tampil unik dengan dekorasi kreatif dan kostum nyentrik yang digunakan para petugas, menjadikan pesta demokrasi tingkat akar rumput ini terasa lebih hidup dan dekat dengan warga.
Di Kecamatan Wajo, misalnya, beberapa TPS tampil mencolok dengan menghadirkan pelaminan lengkap sebagai dekorasi utama. Petugas TPS pun mengenakan baju adat Bugis-Makassar, termasuk baju bodo warna-warni, sebagai simbol budaya daerah. Kreativitas ini tampak jelas di Kelurahan Mampu, salah satu lokasi yang paling menarik perhatian warga.
Camat Wajo, Maharuddin, menjelaskan bahwa dekorasi tersebut merupakan hasil kompetisi kreatif antar-kelurahan.
“Tadi ada yang pakai pelaminan, itu memang diperlombakan. Kelurahannya yang berinisiatif,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa semangat untuk menampilkan TPS seunik mungkin datang dari petugas di lapangan, yang ingin mendorong antusiasme warga dalam proses pemilihan ketua RT.
“Para petugas TPS berlomba-lomba menampilkan TPS seunik mungkin sebagai bentuk semangat dan partisipasi aktif,” tambahnya.
Maharuddin menegaskan bahwa kreativitas ini bukan program resmi kecamatan, melainkan murni dorongan dari aparat kelurahan untuk menyemarakkan pemilu tingkat lokal.
“Bukan program kecamatan, tapi inisiatif lurah untuk membakar semangat warga,” katanya.
Fenomena serupa juga terlihat di Kelurahan Sawerigading dan Panakkukang, di mana para petugas TPS turut mengenakan baju bodo. Kehadiran kostum adat tersebut memberi sentuhan budaya yang kuat di tengah proses demokrasi.
Namun kreativitas warga tidak berhenti di kostum adat. Di TPS RW 005 Kelurahan Wala-walaya, Kecamatan Tallo, para petugas tampil anti-mainstream dengan mengenakan seragam sekolah putih abu-abu. Konsep ini dipilih untuk membangkitkan kembali ingatan warga pada masa ketika mereka pertama kali mengenal proses demokrasi di bangku sekolah.
“Seragam putih abu-abu ini untuk mengenang masa ketika warga mulai mengenal demokrasi secara formal. Kami ingin membuat TPS terasa dekat dan menyenangkan bagi pemilih,” ujar Nia petugas TPS.














