KabarMakassar.com — Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan fakta mengejutkan terkait kondisi ketenagakerjaan pemuda di Indonesia.
Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2024, sebanyak 79,9 persen pemuda yang menganggur tercatat berasal dari kelompok terdidik, yakni lulusan SMA hingga perguruan tinggi.
Sementara itu, hanya 20,1 persen pengangguran pemuda berasal dari kelompok tidak terdidik atau tidak menamatkan pendidikan tinggi. Data ini menunjukkan bahwa mayoritas pengangguran usia muda justru datang dari latar belakang pendidikan menengah dan tinggi, bukan dari kelompok dengan tingkat pendidikan rendah.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi menjadi jaminan bagi pemuda untuk segera memperoleh pekerjaan. Salah satu faktor utamanya adalah terbatasnya lapangan kerja yang mampu menyerap lulusan berpendidikan tinggi, seiring meningkatnya jumlah lulusan setiap tahun.
Selain itu, ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki pencari kerja muda dengan kebutuhan pasar tenaga kerja turut memperparah situasi. Banyak lulusan dinilai belum memiliki kompetensi yang relevan dengan tuntutan industri, meskipun telah menyelesaikan pendidikan formal.
Fenomena tingginya pengangguran terdidik ini dinilai bukan sekadar persoalan kemampuan individu. Lebih jauh, kondisi tersebut mencerminkan masalah struktural pada sistem pendidikan dan sistem ketenagakerjaan di Indonesia yang belum berjalan selaras.
Para pemerhati ketenagakerjaan menilai, persoalan sistemik ini tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan individual semata. Intervensi kebijakan pemerintah dinilai mendesak, terutama dalam pembenahan kurikulum pendidikan, penguatan link and match dengan dunia kerja, serta penciptaan lapangan kerja yang sesuai dengan kualifikasi lulusan.
Jika tidak ditangani secara serius, tingginya angka pengangguran terdidik dikhawatirkan dapat menurunkan nilai pendidikan formal dan merusak standar kualifikasi pekerjaan di masa depan.














