KabarMakassar.com — Pengamat Ekonomi, Keuangan, dan Perbankan, Sutardjo Tui membeberkan dampak yang mungkin terjadi akibat kondisi suku bunga yang tinggi yang diprediksi akan bertahan dalam jangka waktu yang lama.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah kualitas kredit perbankan, khususnya di segmen Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Data yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa rasio kredit bermasalah atau NPL di segmen UMKM telah meningkat menjadi 4,09% per Februari 2024 kemarin. Angka ini naik dari bulan sebelumnya yang berada di level 4,05%, serta lebih tinggi dari posisi tahun sebelumnya yang masih berada di level 3,84%.
Menurut Sutardjo, kenaikan suku bunga acuan BI sebagian besar dilakukan karena belum adanya penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (FED).
“Hal ini membuat BI terpaksa menaikkan suku bunga untuk mencegah pelarian dana dari dalam negeri ke luar negeri (outflow), yang dapat menyebabkan krisis likuiditas dan melemahnya nilai rupiah,” katanya.
Konsekuensinya, lanjut Sutardjo, bank-bank akan ikut menyesuaikan tarif bunga acuan BI, yang berpotensi meningkatkan jumlah kredit macet (NPL) karena pinjaman yang lebih mahal.
Meski begitu, resiko kredit macet sebenarnya bergantung seberapa cepat perbankan dalam merespon kenaikan BI Rate.
“Saat ini tarif bunga pinjaman yang dikenakan perbankan masih terlalu lebar secara jangka pendek, sehingga resiko kredit macetnya belum mengkhawatirkan,” lanjutnya
Di sisi lain, dalam pasar saham, rendahnya tingkat suku bunga valuta asing dalam negeri menyebabkan lebih banyak dana yang mengalir ke luar negeri, mempengaruhi nilai tukar rupiah.
BI diharapkan untuk melakukan intervensi dalam pasar uang untuk menjaga stabilitas nilai rupiah meskipun dampaknya bisa berdampak negatif pada devisa.













