KabarMakassar.com — Pada perdagangan sore hari Senin (05/08) kemarin, nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah ditutup menguat 11 poin atau 0,07%, berada di level Rp16.189 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah diperdagangkan di level Rp16.200 per dolar AS pada penutupan pekan lalu, Jumat (02/08).
Bank Indonesia (BI) melalui kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menetapkan rupiah di posisi Rp16.154 per dolar AS. Penguatan ini sejalan dengan penguatan mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Yen Jepang mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 2,65%. Baht Thailand menguat 0,23%, yuan China naik 0,45%, dan peso Filipina meningkat 0,39%. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong masing-masing mengalami penguatan sebesar 0,41% dan 0,29%. Namun, won Korea Selatan justru melemah 0,45%.
Di antara mata uang negara-negara maju, sebagian besar juga menunjukkan penguatan. Euro Eropa naik 0,57%, poundsterling Inggris menguat 0,02%, dan franc Swiss melonjak 0,87%. Sebaliknya, dolar Australia melemah 0,80%, sementara dolar Kanada menguat tipis 0,05%.
Penguatan rupiah ini didorong oleh data ekonomi domestik yang positif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2024 mencapai 5,05% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan stabilitas ekonomi Indonesia meskipun lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 5,17%.
Selain itu, data Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor jasa di China yang lebih baik dari perkiraan turut mendukung sentimen positif terhadap rupiah. PMI sektor jasa China pada bulan Juli naik menjadi 52,1 dari 51,2 pada bulan Juni, menunjukkan peningkatan dalam aktivitas bisnis yang didukung oleh permintaan yang lebih kuat.
Namun, penguatan rupiah hampir tergerus oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi global, terutama setelah rilis data ekonomi AS yang mengecewakan. Data nonfarm payrolls AS hanya meningkat 114 ribu, jauh di bawah perkiraan 175 ribu, dan tingkat pengangguran naik menjadi 4,3%, di atas ekspektasi 4,1%. Data ini memicu kekhawatiran bahwa ekonomi AS, sebagai ekonomi terbesar di dunia, melambat lebih cepat dari yang diperkirakan.
Selain itu, prospek pemotongan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) semakin nyata. The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September mendatang dan kemungkinan menurunkan total suku bunga hingga 100 basis poin hingga akhir tahun. Proyeksi ini berdasarkan survei dari CME Fedwatch.
Di pasar spot, rupiah mampu mempertahankan penguatannya hingga penutupan perdagangan. Hingga pukul 15.00 WIB, yen Jepang mencatat penguatan terbesar di Asia dengan lonjakan 2,09%, disusul ringgit Malaysia yang naik 1,54%. Dolar Taiwan dan peso Filipina masing-masing menguat 0,48% dan 0,39%. Yuan China juga menguat 0,35%, sementara dolar Hong Kong dan dolar Singapura masing-masing naik 0,33% dan 0,27%. Baht Thailand terlihat menguat 0,24%.
Sebaliknya, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ditutup koreksi 0,63%.
Di sisi domestik, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2024 sebesar 5,05% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2023 (5,17%), ekonomi Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, serta informasi dan komunikasi.
Kementerian Keuangan sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2024 sebesar 5% secara tahunan, didorong oleh terjaganya konsumsi rumah tangga dan investasi yang mulai meningkat. Sepanjang semester I 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,08%.
Melihat lebih dalam, sektor industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar, diikuti oleh lapangan usaha konstruksi dengan sumber pertumbuhan 0,67%, perdagangan dengan sumber pertumbuhan 0,63%, serta informasi dan komunikasi dengan sumber pertumbuhan 0,5%.
Ke depan, penguatan rupiah diperkirakan akan dipengaruhi oleh perkembangan data ekonomi global dan kebijakan The Fed, serta daya tahan ekonomi domestik. Ketidakpastian pasar yang meningkat ini juga tercermin dari Volatility Index (VIX), barometer untuk ukuran volatilitas pasar yang diharapkan, yang dikenal sebagai “indeks kepanikan”.
Per Jumat (2/8), VIX index berada di angka 23,39, naik 39% dalam sepekan terakhir, menunjukkan peningkatan ketidakpastian di pasar.
Dengan demikian, meskipun rupiah berhasil menguat tipis pada hari ini, pergerakannya ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral, baik di dalam maupun luar negeri.












