KabarMakassar.com – Nilai tukar rupiah dibuka stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (11/07) pagi.
Mengacu data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.215 per dolar AS, sama dengan level penutupan perdagangan Kamis (10/07) kemarin.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah sempat ditutup menguat 0,15%, menyusul tekanan yang mereda dari indeks dolar AS (DXY) dan sentimen global yang relatif stabil.
Namun, pergerakan rupiah hari ini masih dibayangi oleh penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia, seperti euro dan franc Swiss.
Dolar AS mendapat dukungan dari kombinasi faktor kebijakan moneter dan geopolitik global, yang membuatnya tetap menjadi pilihan aset aman (safe haven) bagi investor.
Pasar Abaikan Tarif Trump, kecuali Brasil
Meskipun Presiden Donald Trump kembali mengumumkan tarif baru, pasar global cenderung mengabaikan kebijakan tersebut untuk sementara, kecuali di Brasil.
Mata uang real Brasil berdetak tajam setelah diumumkan tarif 50% oleh AS, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap dinamika bilateral yang intens.
Namun, dampak terhadap pasar global, termasuk Indonesia, masih terbatas , dengan pelaku pasar memilih untuk menunggu dan melihat terhadap perkembangan selanjutnya.
The Fed Siap Pangkas Suku Bunga
Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat terakhir Federal Reserve (The Fed) mengungkap bahwa mayoritas pembuat kebijakan mendukung opsi penghentian suku bunga pada akhir 2025.
Harapan terhadap pelonggaran moneter ini memicu optimisme pasar terhadap pemulihan ekonomi global.
Namun, paradoksnya, daya tarik dolar AS justru meningkat dalam jangka pendek, karena ekspektasi tersebut membuat investor memburu dolar sebelum arah kebijakan benar-benar berubah.













