kabarbursa.com
kabarbursa.com

Pengembangan Kakao di Sulsel Didorong Lewat Skema Pembiayaan dan Kemitraan

Pengembangan Kakao di Sulsel Didorong Lewat Skema Pembiayaan dan Kemitraan
Ilustrasi kakao (Dok: Int)

KabarMakassar.com — Budidaya kakao menjadi salah satu program pengembangan ekonomi daerah (PED) yang terus didorong oleh Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Moch Muchlasin membeberkan dalam program PED kakao, terdapat sejumlah peluang dan tantangan.

“Indonesia sendiri merupakan produsen kakao terbesar ke-3 di dunia yakni 642 ribu ton dengan produksi yang didominasi wilayah Sulampua sebesar 65 persen, dan luas lahan terbesar terutamanya di wilayah Sulteng, Sultra, Sulsel serta Sulbar,” tukas Muchlasin dalam keterangan resmi yang diterima pada Senin (18/08).

Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2024 kebutuhan kakao global telah tembus hingga 9,76 ton.

Selain itu, potensi ekspor juga turut dimiliki oleh kakao Indonesia, akan tetapi ekspor kakao Sulampua masih didominasi oleh bahan primer.

“780.622 petani kakao di Sulampua atau sebesar 44,02 persen terhadap petani kakao nasional,” ujarnya.

Sedangkan, PED kakao ini memiliki beberapa tantangan, mulai dari tren produktivitas sampai dengan pengoptimalan akses pembiayaan terhadap petani.

“Tren produktivitas yang menurun disertai dengan penurunan luas lahan juga produksi kakao di Sulampua, serta harga jual yang fluktuatif di pasar global,” ungkapnya.

“Belum semua petani kakao di Indonesia menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) dan teknologi yang modern. Begitu pun dengan akses pembiayaan kepada petani yang belum optimal. Terdapat 7,81 persen total petani kakao yang menjadi debitur di Sulampua,” tambahnya.

Lebih lanjut disampaikan langkah kedepan dalam implementasi program, yakni rencana Perjanjian Kerja Sama (PKS) program PED kakao diantaranya adalah, kerja sama dengan PT MARS, dimana Bank BRI menerapkan skema khusus.

“Dengan konsep pos financing atau supply chain financing yang ditujukan bagi para pengepul serta menjadikan pengepul sebagai agen laku pandai (BRIlink). Terdapat potensi pembiayaan kepada 60 pengepul dan 5.000 petani mitra PT Mars,” imbuhnya.

Adapula kerja sama antara Bank Mandiri serta PT Bumi Surya Selaras (BSS) sebagai pelaku usaha sektor kakao di Kabupaten Polewali Mandar.

“Ada potensi pembiayaan kepada 7.406 petani yang berada di Kabupaten Mamuju Tengah, Kabupaten Mamuju, Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Majene serta Kabupaten Mamasa,” tuturnya.

error: Content is protected !!