KabarMakassar.com — Bank Indonesia (BI) kembali mengambil langkah akomodatif dengan menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5%. Ini merupakan penurunan keempat sejak September 2024, menandakan konsistensi BI dalam menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah inflasi yang terkendali dan nilai tukar rupiah yang stabil.
Namun, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak, menilai penurunan BI Rate belum cukup jika tidak diikuti langkah nyata perbankan. Pasalnya, bunga kredit masih stagnan di kisaran 9,16%, sehingga transmisi kebijakan moneter belum berjalan efektif.
“BI sudah empat kali menurunkan suku bunga, tapi perbankan belum merespons. Dengan BI Rate di 5% dan bunga kredit tetap 9,16%, masyarakat dan dunia usaha belum merasakan dampaknya. Penurunan ini harus segera diterjemahkan dalam penurunan bunga kredit agar manfaatnya dirasakan langsung oleh pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat,” tegas Amin, Rabu (20/08).
Menurut Amin, biaya kredit yang lebih rendah akan mendorong ekspansi sektor riil. Dengan kredit di bawah 9%, UMKM bisa lebih mudah mendapatkan modal kerja, sementara sektor manufaktur, perdagangan, dan jasa bisa meningkatkan kapasitas produksi.
“Jika bunga kredit bisa turun 1–2 persen saja, dampaknya besar. UMKM lebih kompetitif, investasi bertambah, dan lapangan kerja baru tercipta,” jelasnya.
Ia menambahkan, penurunan bunga kredit akan membuat investasi sektor riil lebih menarik. Investor domestik maupun asing akan lebih terdorong menanamkan modal karena iklim pembiayaan lebih kondusif.
Jika transmisi kebijakan moneter berjalan efektif, Amin optimistis target pertumbuhan ekonomi pemerintah pada 2025–2026 di atas 5% bisa tercapai, bahkan berpotensi melampaui proyeksi awal.
“Dengan investasi meningkat, kapasitas produksi naik, konsumsi masyarakat menguat, dan pertumbuhan bisa lebih cepat. Multiplier effect-nya besar, bukan hanya bagi dunia usaha tapi juga bagi perekonomian nasional secara keseluruhan,” tegasnya.
Amin juga mendorong pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan perbankan merespons kebijakan BI. Menurutnya, koordinasi antarlembaga menjadi kunci agar transmisi moneter berjalan optimal.
“Jika biaya kredit bisa lebih terjangkau, saya yakin investasi akan meningkat, sektor riil bergairah, dan target pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi,” pungkasnya.












