KabarMakassar.com — Persaingan menuju kursi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Selatan makin memanas.
Dua nama kini jadi sorotan utama diantaranya, Bupati Maros Chaidir Syam dan Bupati Kabupaten Gowa Husniah Talenrang.
Keduanya tak asing di peta politik Sulsel. Sama-sama menjabat sebagai kepala daerah, keduanya merepresentasikan kekuatan politik dari dua kabupaten yang mengapit Kota Makassar Maros dan Gowa.
Namun siapa lebih layak menduduki posisi strategis ini? Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Lukman Irwan, memberikan analisis tajam atas dinamika perebutan tersebut.
Ia menilai, secara rekam jejak dan loyalitas terhadap PAN, sosok Chaidir Syam unggul dibanding rivalnya.
“Pak Chaidir sudah menjabat Bupati Maros untuk periode kedua, sementara Ibu Husniah baru satu periode di Gowa. Dari aspek pengalaman pemerintahan, itu jadi nilai lebih. Belum lagi jika dilihat dari dukungan politik, Chaidir ditopang oleh kekuatan partai-partai besar di legislatif,” ujar Lukman saat diwawancarai, Senin (12/05).
Menurutnya, kekuatan dukungan politik terhadap Chaidir merupakan cerminan kepuasan masyarakat atas kinerja kepemimpinannya di Maros.
“Itu bukan hanya prestasi individu, tapi modal elektoral yang bisa memperkuat posisi PAN ke depan,” katanya.
Dari segi loyalitas kepartaian, Lukman menekankan bahwa rekam jejak Chaidir di PAN sangat solid. Meski sempat mendapatkan godaan dari partai lain di masa lalu, ia tetap bertahan dalam barisan PAN.
“Ini penting, karena partai butuh figur yang bukan hanya kuat secara elektoral, tapi juga konsisten terhadap ideologi dan garis perjuangan partai,” lanjutnya.
Tak hanya itu, prestasi politik Chaidir dinilai membanggakan. Di bawah kepemimpinannya, PAN Maros berhasil merebut kursi Ketua DPRD dari tangan Golkar sesuatu yang tak terjadi dalam satu dekade terakhir.
“Itu bukan hal sepele. Dalam politik lokal, menggeser dominasi partai besar seperti Golkar adalah capaian signifikan. Ini menunjukkan kemampuan manuver dan kepemimpinan politiknya,” papar Lukman.
Meski demikian, ia tidak mengesampingkan kekuatan Husniah Talenrang. Husniah disebut memiliki jaringan politik yang tak kalah luas dan pengalaman memimpin daerah yang strategis. Namun satu hal yang membedakannya adalah statusnya sebagai kader baru PAN.
“Beliau memang belum lama bergabung. Itu bisa menjadi tantangan tersendiri dalam membangun kepercayaan di internal PAN. Namun dalam politik, bukan berarti mustahil jika Husniah menunjukkan kinerja dan keseriusan dalam membesarkan partai,” ujarnya.
Menurut Lukman, dari sisi kekuatan jejaring dan kemampuan menggalang dukungan, baik Chaidir maupun Husniah sama-sama punya potensi. Jejaring mereka tidak hanya lokal, tetapi juga menyentuh level nasional. Namun soal loyalitas dan kesinambungan perjuangan dalam tubuh PAN, Chaidir masih lebih menonjol.
Melihat dinamika itu, Lukman pun mewanti-wanti agar Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN tidak gegabah dalam menentukan siapa yang akan memimpin PAN Sulsel. Ia mengingatkan agar pemilihan ini tidak menjadi pemicu konflik internal seperti yang pernah terjadi di partai lain.
“Sudah banyak contoh partai besar yang gagal mempertahankan basis karena perebutan internal. DPP PAN harus belajar dari sana. Jangan sampai PAN Sulsel justru kehilangan kekuatan karena keputusan yang didasarkan pada kompromi jangka pendek,” tegasnya.
Menurutnya, penentuan Ketua DPW Sulsel harus berlandaskan pada indikator yang jelas seperti, rekam jejak, loyalitas, daya elektoral, serta kemampuan menjaga soliditas partai.
Ia menyarankan agar DPP tidak menjadikan penunjukan ini sebagai bentuk akomodasi politik semata, tetapi sebagai strategi memperkuat institusi dan kaderisasi partai.
Kata Lukman, alasan kedua nama tersebut muncul karena PAN baru saja menyelesaikan Musyawarah Wilayah (Muswil) di beberapa provinsi, termasuk di Sulawesi Utara. Ashabul Kahfi resmi terpilih sebagai Ketua DPW PAN Sulut pada Muswil yang digelar Rabu (07/05) di Manado. Kini, mata tertuju ke Sulawesi Selatan yang belum menetapkan nama final.
Sehingga tersisa tiga formatur yang memegang kendali keputusan adalah Chaidir Syam, Husniah Talenrang, dan Viva Yoga Mauladi.
Namun nama terakhir kecil kemungkinan menjadi ketua karena saat ini masih menjabat sebagai pengurus DPP PAN. Itu menjadikan Chaidir dan Husniah sebagai kandidat paling relevan untuk menakhodai PAN Sulsel.
“Jika DPP PAN ingin menjadikan Sulsel sebagai lumbung suara di Pemilu mendatang, maka keputusan ini harus tepat. Karena Ketua DPW bukan hanya simbol, tapi motor penggerak kemenangan partai,” pungkas Lukman.














