KabarMakassar.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mulai bersiap menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino Godzilla yang diperkirakan lebih panjang pada tahun 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengidentifikasi sedikitnya enam wilayah yang berpotensi mengalami dampak paling parah.
Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Muhammad Fadli Tahar, mengungkapkan wilayah yang masuk kategori rawan meliputi Tamalanrea, Biringkanaya, Manggala, Ujung Tanah, Tallo, dan Panakkukang.
“Al Nino ‘Godzilla’ ini sudah mulai terasa. Bahkan di wilayah utara sudah ada laporan warga yang mulai kekurangan air,” ujarnya, Kamis (16/04).
Berdasarkan informasi dari BMKG, potensi kekeringan diperkirakan mulai terjadi pada Mei dan mencapai puncaknya pada Oktober. Meski demikian, BPBD menekankan pentingnya penyampaian informasi yang terukur agar tidak memicu kepanikan di tengah masyarakat.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah menyusun skenario penanganan terpadu dengan melibatkan lintas sektor. Koordinasi dilakukan bersama sejumlah instansi, mulai dari dinas teknis hingga perusahaan daerah dan pihak terkait lainnya untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kekeringan.
Fadli menjelaskan, ada tiga ancaman utama yang perlu diwaspadai selama periode kekeringan, yakni krisis air bersih, potensi kebakaran, serta gangguan kesehatan masyarakat.
“Yang paling krusial adalah krisis air bersih. Selain itu, risiko kebakaran meningkat signifikan saat kondisi kering, dan tidak bisa dipungkiri akan muncul gangguan kesehatan,” jelasnya.
BPBD juga mendorong penetapan status tanggap darurat sebagai langkah strategis agar seluruh sumber daya dapat dimobilisasi secara maksimal, termasuk membuka akses bantuan dari pemerintah pusat.
“Status tanggap darurat bukan berarti daerah ini lemah, tetapi menjadi kunci agar semua potensi bantuan bisa segera turun dan penanganan berjalan cepat,” tegasnya.
Ia menambahkan, percepatan antisipasi menjadi faktor penting dalam menekan dampak bencana. Semakin cepat langkah dilakukan, maka proses pemulihan juga akan lebih singkat.
Fadli memastikan kesiapan menghadapi potensi kekeringan tahun ini telah diperkuat melalui perencanaan matang, termasuk pengalaman penanganan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun demikian, peran aktif masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi darurat.
“Dalam kebencanaan, masyarakat bukan hanya objek, tapi subjek utama. Mereka harus siap mengantisipasi sejak dini sebelum bantuan datang,” tukas Fadli.
