KabarMakassar.com – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengungkapkan bahwa kebijakan tarif tinggi yang diterapkan Amerika Serikat diprediksi dampaknya tidak hanya pada ekspor langsung ke AS, tetapi juga terhadap ekspor Sulsel ke China.
Rizki menjelaskan, China merupakan mitra dagang utama Sulawesi Selatan yang banyak mengimpor bahan baku dari provinsi ini, seperti ferro alloy nickel.
Bahan baku tersebut kemudian diolah menjadi produk turunan, seperti stainless steel, yang sebagian besar diekspor ke China ke pasar Amerika Serikat.
“Seperti pada komoditas ferro alloy nickel, meskipun produk ini tidak secara langsung terkena tarif AS, namun produk olahannya yakni stainless steel yang diekspor oleh China ke AS akan terdampak,” ujar Rizki.
Ia menjelaskan, penurunan permintaan stainless steel dari AS berisiko mengurangi kebutuhan China terhadap bahan baku dari Sulsel, termasuk ferro alloy nickel.
Kondisi ini disebut sebagai efek lanjutan atau second round effect, di mana tekanan terhadap ekspor China ke AS turut berimbas pada melemahnya permintaan China terhadap sejumlah komoditas Sulsel, seperti rumput laut dan karagenan, selain ferro alloy nickel.
Ketiga komoditas ini selama ini menjadi andalan ekspor Sulsel ke Negeri Tirai Bambu.
Sepanjang tahun 2024, total ekspor Sulsel ke China tercatat mencapai US$1,38 miliar.
Dari jumlah tersebut, ferro alloy nickel mendominasi dengan nilai ekspor mencapai US$421,23 juta.
Sementara ekspor rumput laut tercatat sebesar US$121,06 juta, disusul oleh pasta coklat senilai US$67,77 juta, tepung karagenan US$43,12 juta, dan berbagai komoditas lainnya dengan total US$734,5 juta.
Rizki menekankan bahwa penurunan permintaan dari China terhadap komoditas-komoditas tersebut dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak kecil bagi Sulsel.
Ia menyebutkan bahwa potensi penurunan nilai ekspor bisa mencapai 0,03% atau setara dengan Rp16,49 miliar.
“Jika ini terjadi, maka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulsel juga berpotensi mengalami koreksi sebesar 0,004%,” terangnya.
Sebagai ilustrasi, Rizki menjelaskan bahwa pangsa ekspor China ke AS untuk komoditas stainless steel dan rumput laut masing-masing mencapai 5,8% dan 2,7%.
Dengan kondisi tersebut, apabila ekspor dua komoditas ini dari China ke AS melambat, maka permintaan China terhadap bahan bakunya dari Sulsel akan ikut terdampak.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi daerah-daerah penghasil ekspor di Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, untuk mewaspadai gejolak kebijakan global yang dapat memengaruhi rantai pasok dan permintaan dari negara mitra dagang, meski secara tidak langsung.
