kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Psikolog Sebut Hopless dan Helpless Jadi Pemicu Bunuh Diri

KabarMakassar.com — Beberapa waktu lalu, warga Kota Makassar dihebohkan dengan kasus bunuh diri. Selama sepekan ada dua kasus yang menjadi sorotan dan santer diberitakan.

Pada Rabu, 9 November 2022 pelajar berusia 16 tahun nekat mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 18 sebuah hotel di Makassar.

Beberapa waktu kemudian, seorang mahasiswi di UNHAS dikabarkan juga mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di sebuah rumah kosong.

Akademisi Psikolog dari Universitas Negeri Makassar, Asniar Khumas mengungkapkan, keinginan seseorang mengakhiri hidup dipengaruhi oleh faktor Hopless dan Helpless.

"Kenapa seorang remaja atau generasi muda yang notabene sebenarnya mereka dianggap anak-anak yang penuh dengan semangat memilih untuk mengakihiri hidupnya, itu sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari perasaan kehilangan harapan jadi hopeless dan mereka merasa helpless," ungkapnya saat menjadi narasumber pada Talkshow KabarMakassar, Selasa, (22/11) lalu.

Ia mengatakan seseorang dengan beban masalah yang cukup besar membutuhkan bantuan orang lain dalam mendengar dan memberikan masukan atas masalah yang dihadapi.

"Tidak punya seseorang yang diharapkan bisa membantu dia untuk keluar dari permasalahan yang dia hadapi. Jadi besar dugaan adik-adik kita ini mengalami hopeless dan helpless dalam konsep psikologi,” terang Asniar. 

Menurutnya, kasus bunuh diri sangat erat kaitannya dengan stres dan depresi. Dimana setiap individu memiliki kemampuan mengatasi stres yang berbeda-beda. Namun, stres dan depresi adalah dua hal yang berbeda.

"Sebenarnya stress itu sebuah keadaan dimana secara umum manusia hadapi sehari-hari. Jadi, malah stres dalam rentang yang sebenarnya masih bisa atau mudah diselesaikan oleh manusia atau individu di bisa bermakna positif. Namun, tentu saja setiap individu memiliki rantang waktu yang berbeda-beda dalam menghadapi stress sehingga, hal tersebut yang dapat menjadi sebuah depresi yang membuat individu merasa ingin mengakhiri hidupnya," jelasnya.

Selain itu, Ketua Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Sulsel ini menuturkan setidaknya ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi psikologi seseorang yakni: 

1. Individu dengan dirinya sendiri 
2. Individu dengan orang di sekitarnya
3. Individu dengan lingkungan fisiknya.

Karena itu, faktor eksternal individu atau kepekaan oleh orang sekitar memiliki peran yang cukup besar dalam mencegah terjadinya kejadian serupa. 

"Intinya adalah kepedulian terhadap satu kemungkinan dimana dalam relasi pertemanan dalam kelas ada bagian yang sedang tidak hadir. Mestinya kita bisa mengambil sikap yang menunjukkan bahwa kita care, kita memang layaknya seorang teman, kita peduli dan tahu apa yang berubah dari teman kita,” ucapnya.

Tak hanya itu, faktor tekanan dari keluarga juga memiliki peran yang cukup besar dalam masalah seperti ini.

"Bagaimana orang tua memiliki tuntutan-tuntutan kepada anak yang ternyata keadaan itu bisa menjadi sebuah tekanan atau daily stress bagi seorang anak. Apalagi kalau orang tua sudah memberikan perbandingan dengan anak-anak lain yang lebih berprestasi," bebernya.

Ada beberapa ciri khusus yang ditunjukkan oleh individu yang sedang mengalami depresi berat dan mengarah para keinginan untuk mengakhiri hidup:

1.  Umumnya menunjukkan perilaku cukup tertutup, 
2.  Tidak punya banyak teman dalam pergaulan, 
3.  Serta menutup diri ketika sedang menghadapi persoalan atau masalah. 

"Keadaan seperti itu dapat menjadi warning bagi orang tua terhadap anak-anak dan kita kepada teman-teman," pungkasnya.

Untuk diketahui, bunuh diri menjadi isu kesehatan masyarakat serius saat ini. Menurut WHO, 2019, sekitar 800.000 orang meninggal akibat bunuh diri per tahun, di dunia. Angka bunuh diri lebih tinggi pada usia muda. 

Di Asia Tenggara, angka bunuh diri tertinggi terdapat di Thailand yaitu 12.9 (per 100.000 populasi), Singapura (7,9), Vietnam (7.0), Malaysia (6.2), Indonesia  (3.7), dan Filipina (3.7).  (Junita).

error: Content is protected !!