Oleh: Henri, S.Pd., M.Pd. (Dosen dan Peneliti Universitas Negeri Makassar (Sosiologi Kebudayaan))
KabarMakassar.com – Di bawah terik matahari Kota Makassar yang kerap tak kenal kompromi, antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) telah berevolusi menjadi pemandangan lumrah. Bagi sebagian besar dari kita, rutinitas ini mungkin hanya sekadar jeda yang menjemukan sebuah keharusan administratif sebelum roda kembali berputar membelah kemacetan kota. Namun, jika kita sejenak menanggalkan kacamata rutinitas dan mengenakan lensa sosiologi kebudayaan, area SPBU sejatinya adalah sebuah laboratorium sosial yang hidup. Ia adalah mikrokosmos dari dinamika masyarakat urban kita.
Meminjam perspektif dramaturgi dari sosiolog ternama, Erving Goffman, SPBU dapat dilihat sebagai “panggung depan” (front stage) tempat individu-individu memainkan peran sosialnya di ruang publik. Dalam panggung terbuka ini, atribut kelas sosial dipertontonkan secara kasat mata melalui “properti” yang mereka bawa, yakni jenis kendaraan. Di satu lajur, kita melihat deretan mobil SUV mewah yang identik dengan kelas menengah ke atas. Di lajur lain, berjajar sepeda motor pekerja harian, pengemudi ojek online yang berkejaran dengan waktu, hingga pete-pete (angkutan kota) yang lelah mencari penumpang.
Dalam kehidupan sehari-hari di kota besar yang kian terfragmentasi, kelas-kelas sosial ini jarang berinteraksi di ruang yang sama dalam posisi yang setara. Mereka makan di restoran yang berbeda, berbelanja di tempat yang berbeda, dan sering kali tinggal di zona perumahan yang terpisah tembok tinggi. Namun, kebutuhan dasar akan energi fosil memaksa sekat-sekat stratifikasi sosial ini untuk melebur di satu titik kumpul: kanopi SPBU.
Di sinilah letak keindahan sekaligus ironi dari budaya antre. Garis antrean di SPBU adalah salah satu bentuk paling purba dari demokrasi ruang publik. Hukum yang berlaku sangat sederhana namun mutlak: siapa yang datang lebih dulu, ia yang dilayani. Di panggung ini, sebuah mobil seharga miliaran rupiah harus rela menunggu dengan sabar di belakang sepeda motor butut atau angkot. Status sosial, jabatan elit, maupun besaran saldo di rekening bank sejenak kehilangan kesaktiannya di hadapan selang dispenser bensin. Garis antrean memaksa semua orang, tanpa pandang bulu, untuk tunduk pada sebuah tata tertib egalitarian.
Meski demikian, negosiasi antarkelas di tepi jalan ini tidak selalu berjalan mulus sesuai naskah. Panasnya cuaca Makassar dan akumulasi kelelahan sering kali memicu gesekan psikologis. Suara klakson yang bersahutan, tatapan mata yang tidak sabar, atau upaya nekat memotong antrean adalah bentuk “kebocoran peran” di mana ego individual mengalahkan kesadaran komunal. Ketika sebuah mobil mencoba menyerobot lajur, atau sesama pengendara motor saling sikut demi ruang sempit, kita sedang menyaksikan benturan kelas dan krisis empati.
Di titik kritis inilah pendekatan humanis dan kearifan lokal Makassar menemukan relevansinya yang paling dalam. Kebudayaan Bugis-Makassar memiliki akar filosofi Sipakatau sifat saling memanusiakan, menghargai, dan menghormati antarsesama. Mengantre dengan tertib di SPBU seharusnya bukan sekadar bentuk kepatuhan buta pada aturan, melainkan praksis (penerapan nyata) dari nilai Sipakatau itu sendiri di era modern. Memberi ruang bagi kendaraan yang telah mengantre lebih dulu adalah bentuk penghormatan paling dasar terhadap eksistensi, waktu, dan hak orang lain.
Lebih jauh lagi, jika kita mau meresapinya, antrean SPBU menyajikan sebuah “solidaritas tanpa kata” (silent solidarity). Dalam ruang tunggu yang bising dan dipenuhi aroma bahan bakar, terbangun sebuah perasaan senasib sepenanggungan. Gestur sederhana seperti saling mengangguk saat memberi jalan, saling menahan ego untuk tidak mendahului, atau sekadar bertukar senyum tipis sesama warga yang kelelahan, adalah bentuk humanisme kecil. Hal-hal kecil inilah yang menjaga kota kita tetap waras dan beradab di tengah tuntutan kehidupan urban yang serba cepat dan individualistis.
SPBU di Makassar adalah panggung teater tempat kita semua menjadi aktor utamanya. Budaya antre yang tercipta di sana adalah cermin kejujuran dari peradaban kota kita. Membangun Makassar yang maju dan beradab tidak selalu melulu diukur dari deretan gedung pencakar langit atau infrastruktur yang megah. Sering kali, kualitas peradaban itu diukur dari hal yang sangat sederhana: seberapa lapang dada warganya untuk berhenti, mematikan mesin, menahan ego, dan bersabar menunggu gilirannya di balik sebuah garis imajiner bernama antrean. Mari jadikan waktu menunggu di SPBU bukan sebagai beban, melainkan sebagai momen refleksi untuk memanusiakan kembali diri kita dan sesama penghuni kota.













