kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Bulog Sulselbar Serap 63.500 Ton Jagung, Target 150 Ton

Bulog Sulselbar Serap 63.500 Ton Jagung, Target 150 Ton
Suasana RDP DPRD Sulsel (Dok: KabaraMakassar).

KabarMakassar.com — Perum Bulog Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) telah menyerap 63.500 ton jagung sepanjang 2026.

Jumlah tersebut mencapai sekitar 42 persen dari target penyerapan yang ditetapkan sebesar 150.000 ton.

Wakil Pemimpin Wilayah Bulog Sulselbar, Karmila Hasmin Marunta, menyampaikan capaian tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait keberlangsungan usaha peternak ayam petelur dan stabilitas pasokan pangan di DPRD Sulsel, Kamis (13/08).

Menurut Karmila, penyerapan jagung dilakukan Bulog di 24 kabupaten/kota di wilayah Sulselbar dengan menggandeng petani dan sejumlah pihak terkait.

“Untuk jagung di tahun 2026 ini Bulog mendapatkan penugasan untuk melakukan penyerapan sebesar 150.000 ton. Sampai dengan hari ini sudah tercapai 63.500 ton untuk Sulawesi Selatan dan Barat,” kata Karmila.

Capaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan realisasi sepanjang 2025 yang hanya mencapai sekitar 17.500 ton.

Bulog menetapkan harga pembelian jagung berdasarkan kualitas. Jagung dengan kadar air 18-20 persen dibeli seharga Rp5.500 per kilogram dengan batas aflatoksin maksimal 50 ppb.

Sementara jagung yang telah dikeringkan hingga kadar air maksimal 14 persen dapat dibeli Bulog dengan harga Rp6.400 per kilogram.

“Ketika mereka sudah melakukan pengeringan jagung tersebut di standar yang bisa disimpan di gudang Bulog yaitu maksimal 14 persen, Bulog membayar kepada petani ataupun mitra jagung dengan harga Rp6.400 per kilogram,” ujarnya.

Karmila menegaskan Bulog berstatus sebagai operator sehingga penyerapan maupun penyaluran jagung dilakukan berdasarkan penugasan pemerintah.
Selain menyerap produksi petani, Bulog juga mendapat penugasan menyalurkan jagung melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP/STHP) kepada peternak.

Pada 2026, total penugasan penyaluran jagung mencapai 6.136 ton, dengan realisasi hingga 13 Agustus mencapai sekitar 1.915 ton.

Jagung tersebut dijual kepada peternak atau asosiasi dengan harga Rp5.000 per kilogram di gudang Bulog. Harga di tingkat konsumen peternak dibatasi maksimal Rp5.500 per kilogram.

Meski demikian, Karmila mengatakan penyaluran jagung belum secara langsung mampu menurunkan harga telur. Sebab, jagung hanya salah satu komponen pembentuk harga pokok produksi (HPP) telur.

“Komoditas jagung ini tidak menjadi satu-satunya komponen pembentuk HPP telur,” jelasnya.

Ia menyebut komponen lain seperti vitamin, listrik, vaksin, transportasi dan tenaga kerja turut memengaruhi biaya produksi peternak.

Karena itu, Bulog memastikan akan terus melakukan penyerapan jagung sesuai standar kualitas yang ditetapkan pemerintah.

“Bulog akan terus melakukan penyerapan jagung yang sebanyak-banyaknya sesuai dengan standar kualitas dan pastinya Bulog akan hadir untuk petani jagung dan untuk peternak,” tukasnya.