KabarMakassar.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar terus memperkuat sistem pengelolaan lingkungan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Antang melalui optimalisasi 10 kolam lindi yang berfungsi menampung dan mengolah limbah cair hasil pembusukan sampah sebelum dilepas ke lingkungan.
Saat meninjau pembenahan TPA Antang di Kecamatan Manggala, Selasa (9/6).
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin turut melihat langsung fasilitas pengolahan air lindi yang berada di sisi utara kawasan TPA sebagai bagian dari transformasi menuju pengelolaan sampah yang lebih modern.
Kepala UPTD TPA Antang, Nasrun, mengatakan kolam lindi memiliki peran penting dalam mencegah pencemaran lingkungan akibat cairan yang berasal dari proses pembusukan sampah dan rembesan air hujan.
“Tujuan dibangunnya kolam lindi adalah untuk menampung dan mengolah air lindi yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah dan air hujan. Keberadaan kolam ini sangat penting untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan,” ujar Nasrun.
Menurutnya, saat ini TPA Antang memiliki sekitar 10 kolam lindi berukuran rata-rata 6 x 8 meter yang digunakan sebagai sistem pengolahan bertingkat. Air lindi dipindahkan secara berjenjang dari satu kolam ke kolam lainnya hingga memenuhi baku mutu lingkungan.
“Di kolam-kolam ini, bisa dilakukan proses pemindahan air secara bertahap sampai mencapai standar baku mutu. Setelah memenuhi ketentuan, baru air tersebut dapat dilepas,” jelasnya.
Selain memanfaatkan sistem kolam bertahap, pengelola TPA Antang kini menggunakan teknologi Eco True untuk membantu menurunkan kandungan logam dan zat pencemar dalam air lindi sehingga hasil pengolahannya dinilai lebih aman bagi lingkungan.
“Sekarang kami menggunakan Eco True untuk hasil yang lebih baik. Dengan penggunaan Eco True, kami juga mendapatkan pendampingan dari tim yang secara khusus melakukan penyiraman dan pemantauan,” katanya.
Di sisi lain, pengelola juga menerapkan metode penimbunan sampah secara berlapis menggunakan tanah urug setiap timbunan mencapai ketinggian tertentu. Langkah ini dilakukan untuk menekan bau tidak sedap, mengurangi populasi lalat, serta meminimalkan risiko kebakaran di kawasan TPA.
Meski menghadapi tantangan tingginya volume sampah yang masuk setiap hari, Nasrun memastikan pemantauan dan penanganan terus dilakukan agar dampak lingkungan tetap terkendali.
“Kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan. Kami terus melakukan pemantauan dan penanganan agar dampak yang ditimbulkan tetap dapat dikendalikan,” tuturnya.














