kabarbursa.com
kabarbursa.com

BI Ungkap Bank Siap Genjot Penyaluran Kredit

BI Ungkap Bank Siap Genjot Penyaluran Kredit
Ilustrasi penyaluran kredit untuk pertumbuhan ekonomi (Dok: Int)

KabarMakassar.com — Penyaluran kredit makin gencar dilakukan oleh perbankan di Indonesia, hal tersebut beriringan dengan suku bunga pinjaman yang telah turun.

Tercatat, suku bunga pinjaman berangsur turun menyesuaikan penurunan suku bunga acuan BI Rate sejak September 2024.

Lebih lanjut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan, jika suku bunga pinjaman untuk kredit baru telah mengalami penurunan sampai dengan 88 basis points.

Level tersebut, kata Destry, mencerminkan jika bank telah mulai bersiap menyalurkan pembiayaan secara besar-besaran.

“Kapasitas perbankan semakin gencar menyalurkan kredit sebetulnya saat kini memang masih sangat besar, karena likuiditas di sistem keuangan sangat memadai,” ujarnya, dikutip Sabtu (28/02).

Ia menyebut, secara industri cukup sehat. Rasio alat likuid perbankan tembus 27,6 persen.

“Capital adequacy rasio yakni 25,9 persen serta ini jauh di atas threshold 8 persen,” katanya.

Ketika level likuiditas di perbankan masih memadai, maka BI turut mempertahankan stabilitasnya lewat pemberian insentif kebijakan likuditas makroprudensial.

“Instentif tersebut sudah terkucurkan ke berbagai bank, dan kini tembus Rp427,5 triliun. Dimana dari total tersebut, yang tersalurkan untuk lending channel insentifnya ialah sekitar Rp357,9 triliun, untuk interest channel Rp69,6 triliun,” tuturnya.

Dia mengatakan, kecepatan bank dalam menurunkan suku bunga pinjaman masih harus dipacu, mengingat suku bunga acuan BI Rate sudah turun 150 basis points.

“Kemampuan bank menyalurkan kredit juga butuh ditingkatkan, karena dari sisi permintaannya masih belum tinggi,” paparnya.

“Dari angka fasilitas kredit yang belum terpakai atau dikenal undisbursed loan perbankan mencapai Rp2.506 triliun atau 22,65 persen dari platform kredit yang ada,” jelasnya.

Destry menekankan, dengan angka yang cukup besar tersebut maka perlu didorong sehingga akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.

Loading

error: Content is protected !!