KabarMakassar.com — Pemerintah memantapkan langkah besar dalam mempercepat hilirisasi sektor pertanian nasional. Melalui rapat finalisasi yang digelar di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jumat (7/11).
pemerintah menyepakati rencana investasi jumbo senilai Rp371 triliun untuk memperkuat industri pengolahan di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan hortikultura.
Program ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian dalam negeri serta menciptakan sekitar 8 juta lapangan kerja baru di berbagai daerah.
Rapat tersebut dipimpin oleh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bersama Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rosan Roeslani, dan dihadiri sejumlah pejabat strategis lintas kementerian serta perwakilan BUMN yang akan terlibat dalam implementasinya.
Mentan Amran menyampaikan bahwa kebijakan ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya industrialisasi pertanian untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang kuat di sektor pangan dan sumber daya alam.
“Atas arahan Bapak Presiden Prabowo, kami bergerak cepat bersama Menteri Investasi dan Hilirisasi. Total investasi sebesar Rp371 triliun disiapkan untuk memperkuat sektor pertanian, pangan, peternakan, hortikultura, dan perkebunan,” ujar Amran.
Ia menjelaskan, pra-studi kelayakan (pre-feasibility study) akan segera diselesaikan dan diserahkan kepada Kementerian Investasi agar pelaksanaan proyek dapat segera dimulai pada 2026.
Amran menyebutkan, sebagian besar dana investasi akan diarahkan untuk pengembangan komoditas tebu, kakao, mete, dan kelapa, yang selama ini memiliki nilai jual rendah karena dijual mentah. Melalui hilirisasi, produk-produk tersebut akan diolah di dalam negeri menjadi berbagai turunan bernilai tambah tinggi.
Sebagai contoh, program hilirisasi kelapa di Maluku Utara telah mampu menaikkan harga jual dari Rp600 menjadi Rp3.500 per butir, atau naik hingga 500 persen.
“Kalau dulu kelapa dijual mentah, nilainya kecil. Tapi setelah diolah di dalam negeri, harganya meningkat tajam. Ke depan, dengan industri yang lebih besar, nilainya bisa naik 20 hingga 100 kali lipat,” kata Amran.
Ia menegaskan, hilirisasi bukan sekadar menambah kapasitas produksi, tetapi juga mengubah pola ekonomi petani dari penjual bahan mentah menjadi bagian dari rantai industri nasional.
Selain fokus pada komoditas perkebunan, pemerintah juga menyiapkan investasi tambahan sebesar Rp20 triliun untuk memperkuat pasokan ayam dan telur nasional. Langkah ini dilakukan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan saat ini.
“Kami siapkan sistem peternakan ayam pedaging dan telur terintegrasi secara nasional untuk menyuplai kebutuhan Badan Gizi Nasional (BGN). Jangan sampai ke depan kita kekurangan stok ayam atau telur. Jadi semuanya disiapkan dari sekarang,” terang Amran.
Mentan Amran menegaskan, seluruh program hilirisasi pertanian ini akan berorientasi pada pemberdayaan petani sebagai aktor utama. Pemerintah berkomitmen memberikan pelatihan, pendampingan teknologi, serta akses kemitraan dengan industri pengolahan agar petani dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari hasil produksinya.
Ia menyebut, hilirisasi adalah langkah strategis untuk memutus ketergantungan terhadap impor dan sekaligus mengembalikan kesejahteraan petani sebagai pusat ekonomi nasional.
“Kita ingin petani tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tapi bagian dari rantai industri. Dengan hilirisasi, petani akan menikmati hasil yang lebih besar, ekonomi desa akan hidup, dan ekspor kita akan naik,” tegasnya.
Melalui hilirisasi besar-besaran ini, pemerintah menargetkan transformasi sektor pertanian menuju sistem pertanian modern dan industri berkelanjutan.
Dengan total tersebut, program ini diharapkan menjadi motor penggerak baru ekonomi nasional, menguatkan ketahanan pangan, membuka jutaan lapangan kerja, dan menjadikan produk pertanian Indonesia lebih kompetitif di pasar global.
“Kita ingin menjadikan hilirisasi sebagai wajah baru pertanian Indonesia bukan hanya kuat di lahan, tapi juga berdaya di industri,” tutup Amran.
Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menegaskan, hilirisasi pertanian memiliki dampak sosial dan ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan hilirisasi sektor mineral. Sektor ini dinilai lebih padat karya dan langsung menyentuh masyarakat di lapangan, terutama petani kecil di daerah.
“Kalau hilirisasi mineral investasinya besar tapi tenaga kerja sedikit. Justru hilirisasi pertanian, perkebunan, dan peternakan memiliki dampak lebih luas terhadap penciptaan lapangan kerja,” ujar Rosan.
Menurutnya, Kementerian Investasi bersama Kementan dan lembaga Danantara telah mengidentifikasi proyek-proyek prioritas nasional yang siap dijalankan. Beberapa BUMN juga akan ditugaskan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan fasilitas pengolahan.
“Kami dari Danantara akan mendukung penuh dan mengevaluasi setiap tahapan. Produk unggulan seperti kelapa dan kakao memiliki keunggulan kompetitif tinggi. Karena itu, program ini akan dijalankan secara cepat, masif, dan tepat sasaran,” ungkapnya.













