KabarMakassar.com — Alih fungsi pengelolaan aset depot air minum Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Borongtala, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, Sulsel, menuai polemik.
Polemik ini muncul setelah pengurus Bumdes lama menyerahkan kepengurusannya ke Bumdes baru. Pasalnya, saat penyerahan dilakukan oleh pengurus lama, ditemukan sejumlah kekurangan oleh pengurus baru.
“Sewaktu diserahkan itu, ada beberapa bagian yang tidak ikut serta (hilang), seperti tandong 2 buah, seng, puluhan galon dan alat depot,” kata pengurus Bumdes baru Sudirman kepada awak media belum lama ini.
Selain kekurangan tersebut, Sudirman Rewa juga mengaku telah menemukan kekurangan kas dari penghasilan usaha yang dikelola oleh pengurus lama. Bahkan, ia menduga keuntungan tersebut juga mengalir ke kantong mantan kepala desa.
Hal ini Ia curigai karena tidak menerima sisa kas anggaran bumdes sewaktu peralihan kepengurusan dilakukan.
“Saya bertanya-tanya ini, kemana uang hasil depot air yang di kelola bumdes lama,” ujarnya.
Jika dihitung-hitung, jumlah kekurangan kas yang dikelola oleh pengurus lama mencapai 19 bulan lamanya, artinya, selama peralihan kekuasaan ke tangan kepala desa Efendy Amba pada 28 Desember 2023 lalu, kas pengelolaan depot air minum sudah mengalami kekurangan.
Akibat kekurangan tersebut, Sudirman menyebut jika pihaknya saat ini tak bisa mengoperasikan peralihan fungsi aset.
Sementara itu, Kepala Desa Borongtala, Efendy Amba saat dikonfirmasi terpisah mengatakan jika dirinya belum mengetahui persis terkait informasi tersebut.
Apabila itu benar maka, pihaknya akan menyerahkan sepenuhnya masalah ini kepada APH jika ingin mengusut tuntas kasus tersebut.
“Saya tidak ingin ribut soal itu, jika ada yang ingin persoalkan ke ranah hukum silahkan, saya saat ini fokus ke pembangunan dan pembenahan desa,” tegasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kabarnya pemasukan aset bumdes harian mencapai Rp200 hingga Rp250 ribu. Jika dikalkulasikan selama 19 bulan total penghasilan ditaksir mencapai Rp114 juta.
Lebih lanjut dari informasi yang diperoleh, rincian aset depot air minum ini awalnya memiliki 200 buah galon dengan taksiran harga jual air Rp4 ribu per galon dimana bagi hasil pengelola dan supir mendapat bagian masing-masing Rp1000 per galon.














