KabarMakassar.com — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan sikap keras terhadap mafia pangan yang diduga memanipulasi data stok beras nasional demi kepentingan tertentu.
Dalam momen Iduladha 1446 H, di sela kegiatan berkurban di Makassar, Mentan Amran memilih menggunakan panggung publik untuk membongkar praktik kotor yang membahayakan ketahanan pangan dan merugikan petani lokal.
“Sekarang beras kita banyak. Tapi ada yang coba-coba mainkan data, seolah-olah stok berkurang. Setelah diperiksa, ternyata betul. Ini sedang diproses oleh Satgas Pangan,” ungkap Amran di sela pelaksanaan kurban di sekitar AAS Building, Jumat (06/06).
Menurutnya, manipulasi data bukan persoalan sepele. Jika dibiarkan, kebohongan itu bisa membuka ruang impor beras besar-besaran yang berakibat langsung pada hancurnya harga gabah petani.
Amran menegaskan bahwa praktik ini tidak boleh dimaafkan hanya karena pelakunya menyampaikan penyesalan.
“Mereka minta maaf ke Satgas Pangan, tapi saya bilang tidak! Pemeriksaan harus jalan terus. Ini bukan kesalahan biasa. Kalau data dibuat seolah stok kurang, maka jawabannya pasti impor. Siapa yang dirugikan? Petani. Mereka bisa kehilangan semangat tanam. Ini soal nyawa pangan nasional,” tegasnya.
Amran mengatakan, ia tidak akan kompromi terhadap siapa pun yang mempermainkan data pangan, karena itu menyangkut jutaan nasib petani di seluruh Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, Kementerian Pertanian akan menjadi garda terdepan dalam melindungi sektor hulu pangan dari manipulasi dan kepentingan pasar gelap.
Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan komitmen besar terhadap pertanian, mulai dari bantuan pupuk hingga kebijakan harga yang berpihak pada petani. Maka dari itu, kata Amran, tidak boleh ada yang mengambil kesempatan di tengah upaya negara memperkuat swasembada.
“Negara sudah memberi banyak pupuk, infrastruktur, harga yang menguntungkan. Tapi kalau masih ada yang bermain curang, itu namanya menzalimi petani. Jumlah petani kita bisa mencapai 160 juta jiwa kalau dihitung dari seluruh rantai pangan, perkebunan, hingga peternakan. Mereka ini fondasi negeri. Kalau fondasinya diganggu, negara bisa runtuh,” ujarnya.
Amran memberikan pesan tegas terhadap para mafia pangan, tidak ada toleransi. Negara, katanya, akan hadir secara tegas untuk melindungi kepentingan rakyat, khususnya para petani yang selama ini berada di garis depan ketahanan pangan nasional.
“Bukan soal jumlah kurban, tapi bagaimana kita tetap berpihak kepada yang lemah. Dan yang paling lemah saat data dimainkan adalah petani. Saya tidak akan mundur melawan mereka yang merusak sistem pangan kita,” tutup Amran.














