KabarMakassar.com — Mantan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Abdul Hayat Gani, kini resmi menakhodai Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Perindo Sulawesi Selatan.
Kepastian itu disampaikannya di sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Perindo yang digelar di Discovery Hotel, Ancol, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Abdul Hayat menegaskan langkah awal kepemimpinannya akan difokuskan pada pembenahan internal partai dan penguatan struktur hingga ke akar rumput. Ia menyebut bahwa pondasi organisasi yang kokoh merupakan syarat mutlak untuk menjadikan Perindo sebagai partai yang benar-benar hadir di tengah rakyat kecil.
“Tentu kita persiapkan pondasi awal dulu, bagaimana memastikan semua struktur kelembagaan di kabupaten/kota sampai di kecamatan dan kelurahan. Kalau sudah rapi, berikutnya kita siapkan program-program yang berpihak kepada rakyat kecil. Inovasi dan produktivitas dalam bekerja harus konkret. Kita kurangi diskusi, perbanyak eksekusi,” ujarnya tegas, Kamis (06/11).
Sebagai mantan pejabat tinggi di Pemprov Sulsel, Abdul Hayat memahami betul pentingnya tata kelola dan pelaksanaan yang efisien. Ia menegaskan bahwa orientasi Perindo di bawah kepemimpinannya bukan sekadar mengejar elektabilitas, tetapi menyiapkan langkah-langkah nyata untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat lemah melalui kerja kolektif yang terukur dan berintegritas.
Berbeda dengan gaya politik elitis, Abdul Hayat menawarkan strategi elektoral yang ia sebut ‘realistis tapi ambisius’. Ia ingin setiap daerah pemilihan (dapil) di Sulsel memiliki representasi kader Perindo di parlemen.
“Untuk target elektoral sendiri, kita menargetkan ada satu anggota DPR di tiap kabupaten/kota. Kalau Sulsel ada 24 daerah, berarti ada 24 kursi DPRD kabupaten/kota yang kita bidik. Untuk provinsi kita targetkan 3–4 kursi, cukup untuk satu fraksi. Sementara di DPR RI, kita targetkan dua, satu dari selatan dan satu dari utara,” jelasnya.
Namun menariknya, Abdul Hayat menegaskan tidak memiliki ambisi pribadi untuk maju dalam Pemilu mendatang. Ia menyebut perannya kini adalah sebagai penggerak dan pendukung penuh bagi para kader yang siap bertarung.
“Saya tidak punya target untuk maju di legislatif. Fokus saya adalah mendukung teman-teman yang ingin bertarung. Jangan tanya saya mau maju di mana, saya tidak ada niat untuk itu,” tegasnya.
Disinggung mengenai peralihannya dari dunia birokrasi ke politik, Abdul Hayat menilai langkah itu bukan lompatan besar. Selama menjadi Sekda Sulsel, ia sudah terbiasa berinteraksi dengan para politisi dan anggota legislatif di berbagai tingkatan pemerintahan.
“Tidak kaku, karena selama jadi Sekda saya sering bertemu teman-teman di legislatif provinsi dan kabupaten/kota. Jadi saya anggap ini pengabdian lanjutan setelah birokrasi,” ungkapnya.
Ia mengaku bahwa keputusan terjun ke politik bukan didorong ambisi pribadi, melainkan panggilan pengabdian. Menurutnya, birokrat memiliki keterbatasan dalam memberi dampak langsung terhadap perubahan sistemik, sementara politik memberi ruang lebih luas untuk memperbaiki dari dalam.
“Birokrat itu satu hal, tapi belum sempurna pengabdian saya. Saya ingin berbuat lebih luas dalam kegiatan kemasyarakatan. Ada krisis kepemimpinan, dan memperbaikinya hanya bisa lewat partai politik. Sepintar apapun orang, kalau tidak punya partai, dia hanya jadi pengikut. Jadi saya masuk politik karena ingin memperbaiki dari dalam,” ujarnya.
Abdul Hayat bertekad membangun politik kerja nyata, bukan sekadar retorika. Ia menekankan pentingnya membentuk kader yang berintegritas, disiplin, dan memahami realitas sosial ekonomi masyarakat Sulawesi Selatan.
Baginya, keberhasilan politik bukan diukur dari banyaknya jabatan, tetapi dari seberapa besar dampak yang dirasakan masyarakat.
“Kita ingin partai ini benar-benar menjadi wadah bagi mereka yang mau bekerja, bukan sekadar berdebat. Karena yang kita perjuangkan bukan jabatan, tapi kesejahteraan rakyat,” pungkasnya.













