kabarbursa.com
kabarbursa.com
Opini  

OPINI: Musik Pop Bugis dan Makassar Kehilangan Jejak Fisiknya

OPINI: Musik Pop Bugis dan Makassar Kehilangan Jejak Fisiknya
(Foto : Muhammad Ilham Darwis)

Oleh: Muhammad Ilham Darwis

KabarMakassar.com — Musik pop Bugis dan Makassar kehilangan jejak fisiknya, terutama kaset yang dirilis pada tahun 1970–1980. Padahal, pada masa itu terdapat beberapa tempat rekaman yang sempat eksis, seperti Irama Baru, Suara Mas, Libels, dan lain-lain.

Jika ditelisik, Indonesia merupakan salah satu surga bagi para pencari kaset. Ada ribuan bahkan jutaan kaset yang pernah dibuat, mulai dari awal kemunculannya pada tahun 1971 hingga masa redupnya. Kaset-kaset tersebut hadir dalam berbagai jenis, memuat karya musisi mancanegara dengan beragam genre musik seperti rock, disco, pop, melayu, keroncong, hingga jazz. Mulai dari musik arus utama hingga non-mainstream, dalam bentuk album, top hits, scoring film, kompilasi genre, hingga rekaman konser langsung.

Pada periode 1970–1988, kaset nonlisensi, bajakan, ilegal, atau tanpa izin, khususnya rilisan musisi luar negeri, merupakan hal yang lumrah ditemui di toko-toko kaset. Sebelum tahun 1988, dapat dikatakan hampir semua kaset musisi luar negeri yang beredar di Indonesia adalah hasil bajakan, baik dari label besar maupun independen, seperti Aquarius, Billboard, Perina, Yess, Monalisa, dan Hidayat Record. Fenomena ini bisa dikatakan sebagai sesuatu yang positif, meski beraroma negatif.

Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena pada saat itu Indonesia belum memiliki regulasi yang jelas terkait hak cipta atau lisensi. Lalu, bagaimana perusahaan rekaman tersebut dapat merilis kaset? Jawabannya, melalui proses menggandakan album-album band luar negeri yang dibeli, kemudian direkam ulang ke dalam kaset pita melalui beberapa tahapan.

 

Namun, melalui proses tersebut, dunia musik Indonesia justru mencapai puncaknya. Banyak musisi lokal bermunculan, dan berbagai ajang pencarian bakat melahirkan penyanyi-penyanyi ternama.

Pada masa kejayaannya, kaset pita selalu menemani kehidupan banyak orang. Ia menyimpan memori sekaligus merekam zaman.

Bagi generasi yang tidak pernah merasakan “zaman kaset pita”, muncul keinginan untuk menghidupkan kembali era tersebut. Di tengah zaman serba canggih ini, segala sesuatu terasa serba cepat. Untuk mendengarkan musik, cukup dengan sekali klik. Namun, sensasi dalam menikmati musik perlahan hilang. Bukan hanya karena data musik dipadatkan hingga kehilangan kualitas getarannya, tetapi juga karena pengalaman artistik yang ingin disampaikan oleh seniman tidak sepenuhnya sampai kepada pendengarnya. Hal ini juga berdampak pada menurunnya apresiasi.

Bandingkan dengan mendengarkan musik melalui rilisan fisik, termasuk kaset pita. Musik terasa lebih nyata karena berada dalam genggaman. Pendengar dapat membaca lirik, mengetahui siapa saja yang terlibat, dan menikmati proses membuka kaset, memasukkannya ke dalam tape deck, hingga mendengar suara berdecit sebelum lagu dimulai. Di situlah letak kenikmatan sekaligus bentuk apresiasi terhadap karya seniman.

Sayangnya, karya-karya musisi Bugis dan Makassar dalam bentuk kaset kini sangat sulit ditemukan dalam kondisi baik. Banyak kaset yang tersisa dalam kondisi rusak, baik dari segi sampul yang robek atau menempel pada mika, maupun kualitas rekaman yang sudah menurun.

Kurangnya pemahaman bahwa karya lokal juga penting untuk dilestarikan merupakan hal yang dapat dimengerti. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya referensi serta kemudahan akses terhadap kaset musisi nasional dan internasional yang dianggap lebih menarik untuk dikoleksi.

Oleh karena itu, bagi siapa saja yang masih memiliki kaset-kaset musisi Bugis dan Makassar, diharapkan dapat menghubungi saya. Dalam upaya untuk menjada dan melestarikan musik daerah.

error: Content is protected !!