Oleh: Rusliana Rusli (Akademisi)
KabarMakassar.com — Saat jeda dalam rutinitas kesibukan sebagai bahagian dalam dunia akademik di perguruan tinggi, tanpa sengaja saat membuka salah satu situs media online dan membaca salah satu artikel yang membahas tentang perceraian. Sejenak benak saya sedikit terusik, memaksa saya berpikir dan membuat pilihan dengan menuangkannya dalam sebuah tulisan sederhana.
Mungkin dengan menulis dan memberikan sedikit opini, mencoba melihat perkembangan tren isyu khusususnya di banyak kasus perceraian, dimana tidak sedikit menimpa dikalangan wanita yang sedang sibuk-sibuknya merintis karier. Apakah sebegitu mudahnya kah kita mengambil keputusan atau sikap yang cukup frontal dengan berkata “jika tidak ada lagi keselarasan sebaiknya kita bercerai”.
Perceraian di hari ini mungkin tidak lagi terasa seperti momok dikalangan beberapa wanita yang rentang galau karena persoalan kantor dan di rumah sekarang ini.Pilihan berpisah ini justru terasa cenderung mengarah menjadi sebuah trend pilihan jika tak ada kecocokan pada rumah tangganya yang baru seumur jagung.
Sebagai wanita yang telah bekerja hampir 20 tahun dan berumah tangga hampil 15 tahun, hal ini cukup membuat saya memilih untuk sedikit berbicara dengan nada yang mengurangi sisi kelembutannya, sambil menyisipkan sedikit pengalaman dalam menjalani rumah tangga.
Berumah tangga bukan hal yang sangat mudah untuk dijalani bagi wanita yang bekerja diluar rumah, sebab sebagai seorang istri atau ibu rumah tangga kita juga memiliki tanggung jawab untuk mengatur dan mengurus rumah tangga. Secara personal saya sangat menyadari bahwa tingkat stress yang acapkali kita alami, itu cukup berbeda dengan ibu rumah tangga yang lingkup kesibukan beraktivitas terbatas didalam rumah.
Persaingan global yang berdampak pada budaya merintis karir ditempat kerja, menuntut kita untuk fokus dan selalu beradaptasi dengan dunia kerja yang sangat cepat serta membutuhkan waktu yang cukup banyak, terlebih tenaga yang cukup besar, sehingga mampu membuat energi kita cukup untuk bisa bertahan ditempat kerja dalam waktu yang lama.
Banyaknya kasus perceraian yang terjadi sekarang ini dapat kita lihat dalam angka, dimana jumlah perceraian di Indonesia sendiri mencapai 438.168 kasus pada tahun 2025, naik 10% dari tahun sebelumnya di 2024. Perselisihan dan pertengkaran terus-menerus menjadi pemicu utama, jumlahnya cukup serius sebab berada di angka 282.326 kasus, kemudian diikuti masalah ekonomi dengan 105.727 kasus, sementara pilihan meninggalkan salah satu pihak berada pada angka 31.029 kasus (BPS 2025).
Dengan melihat angka perceraian yang cukup tinggi yang terjadi pada tahun 2025 ini, mari kita mencoba melihat, sejauh mana perceraian melibatkan wanita yang bekerja diluar rumah atau wanita karir. Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar 78 ÷ dari total kasus perceraian di Indonesia adalah cerai gugat (diajukan oleh pihak istri). Wanita karier, terutama yang memiliki penghasilan lebih tinggi dari suami, lebih rentan mengajukan cerai karena kemandirian ekonomi.
Setelah membaca data tentang kasus percerian yang begitu tinggi terutama yang terjadi pada rumah tangga yang mana istri bekerja diluar rumah (wanita karir) ini tidak terlepas dari beberapa teori yang mendukung antara lain teori Individualisasi dan refleksitivitas modern yang mana dijelaskan bahwa perempuan modern tidak akan pernah ingin bertahan dalam hubungan yang toksik demi status sosial semata.(He Second Shift: Working Families and the Revolution at Home by Arlie Russell Hochschild ,1989) dan teori yang lain teori individualisasi dan refleksivitas modern yang termasuk teori sosiologi modern dengan melihat perubahan institusi keluarga diera globalisasi ini sangat relevan dengan buku The Normal Chaos of Love (1995) yang ditulis oleh Ulrich Beck dan Elisabeth Beck-Gernsheim. Dalam buku ini menekankan bahwa diera ini wanita karir tidak akan bertahan dalam hubungan toxid hanya karena mempertahankan status sosial semata.
Wanita karir yang memiliki jangkauan yang cukup luas berarti mereka memiliki pemikiran yang sangat maju dan adaptif terhadap perubahan. Untuk bisa mempertahankan rumah tangga maka diperlukan kebijaksanaan serta kedewasaan dalam bersikap terutama bagaimana bisa menekan ego.
Pemikiran yang terlalu global dimana wanita karir sangat menekankan kemandirian dan pemikiran yang modern dimana kesetaraan antara pria dan wanita serta kesetaraan gender perlu dikaji juga dalam perpektif agama sehingga tidak akan terjadi pemikiran kebablasan dalam berumah tangga.
Yang perlu kita sadari bahwa ketika kita berumah tangga berarti kita masuk kedalam ranah ibadah untuk mendapatkan pahala dan Ridho Allah SWT. Wanita karir yang sukses mampu menciptakan rumah tangga yang harmonis, sakinah, mawaddah dan warahmah.













