Indeks
Opini  

OPINI: Dari Sudah Makan! ke Bagaimana Perasaanmu Hari Ini: Mengubah Cara Ibu Berkomunikasi Dengan Anak

OPINI: Dari Sudah Makan! ke Bagaimana Perasaanmu Hari Ini: Mengubah Cara Ibu Berkomunikasi Dengan Anak
Oleh: Dewi Diansa Putri (Dosen Universitas Pancasakti Makassar)

Oleh: Dewi Diansa Putri (Dosen Universitas Pancasakti Makassar)

KabarMakassar.com — Pertanyaan “sudah makan” kepada anak adalah sebuah pertanyaan yang sederhana antara percakapan ibu kepada anaknya. DIbalik pertanyaan yang kesannya memberikan perhatian dan rasa sayang kepada anak, tetapi kita tidak tahu kondisi atau keadaan anak di saat itu juga.

Terkadang kita tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Tumbuh kembang yang selalu kita lihat tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan mereka. Komunikasi dengan anak harus lebih kompleks. “ Bagaimana perasaanmu hari ini?” apakah dia merasakan senang? Walaupun dia terlihat kenyang menyantap makanan yang belum tentu dia suka. Hanya mengiyakan aturan-aturan yang kita berikan kepada mereka.

Pertanyaan “Bagaimana perasaanmu hari ini?” dapat membuka pintu percakapan yang berbeda. anak memiliki kesempatan untuk menceritakan kegembiraan, kekhawatiran, kekecewaan, bahkan masalah yang selama ini disimpannya sendiri.

Dalam komunikasi interpersonal, empati menjadi bagian penting untuk membangun hubungan yang dekat. Ketika anak bercerita, orang tua tidak selalu harus langsung memberikan solusi. Terkadang, anak hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.

Hal ini semakin penting di era digital, anak mungkin terlihat aktif di media teknologi (gawai), berkomunikasi melalui pesan singkat, dan terhubung dengan banyak orang, tetapi belum tentu memiliki ruang yang nyaman untuk berbicara tentang perasaannya di rumah.

Jadikan rumah yang nyaman dan aman untuk anak

Dalam konteks komunikasi, rumah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak untuk menyampaikan berbagai pengalaman. anak perlu mengetahui bahwa ketika mengalami kegagalan, kecewa, bingung, marah, atau sedih, ia masih memiliki tempat untuk kembali dan berbicara.

Karena itu, keluarga perlu membangun budaya komunikasi yang terbuka. Luangkan waktu untuk berbicara tanpa gangguan gawai. Dengarkan sampai selesai. Maka, sesekali ubahlah pertanyaan “Sudah makan?” menjadi “Bagaimana perasaanmu hari ini?”

Mungkin pertanyaan sederhana itu dapat membuka percakapan yang selama ini sangat dibutuhkan anak.

Kita dapat mengirim banyak pesan, tetapi belum tentu mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan oleh orang yang kita cintai. Karena itu, keluarga tetap membutuhkan komunikasi tatap muka. Sesekali, letakkan telepon, hentikan aktivitas, dan berikan perhatian penuh ketika anak sedang berbicara.

bu juga tidak harus selalu memiliki jawaban untuk setiap masalah anak. Terkadang, kalimat sederhana seperti “Mama mungkin belum tahu harus bagaimana, tetapi Mama ada di sini” justru dapat memberikan rasa aman yang sangat berarti.

Anak akan tumbuh, memiliki dunia sendiri, membangun pertemanan, menempuh pendidikan, bekerja, dan suatu hari membangun keluarganya sendiri. Namun, pengalaman tentang bagaimana ia didengarkan dan dipahami oleh ibunya akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Lalu, ketika anak mulai bercerita, jangan buru-buru memberikan jawaban. Dengarkan.

Sebab terkadang, bentuk kasih sayang seorang ibu yang paling dibutuhkan anak bukanlah nasihat panjang, melainkan keyakinan bahwa ketika dunia terasa berat, masih ada rumah yang bersedia mendengarkan.

Exit mobile version