Oleh: Indriani S.Pd,M.Pd, Dosen Pendidikan Sosiologi dan Pemerhati Pendidikan
KabarMakassar.com — Di sebuah ruang kelas, seorang guru meminta siswanya membaca artikel sepanjang tiga halaman. Belum sampai lima menit, beberapa siswa mulai terlihat gelisah. Sebagian membuka gawai, sebagian lainnya bertanya apakah ada versi ringkas dari bacaan tersebut. Fenomena ini bukan sekadar persoalan kedisiplinan belajar. Ia merupakan gejala sosial yang lebih luas tentang bagaimana budaya instan telah membentuk cara generasi muda berinteraksi dengan pengetahuan.
Kita hidup pada era ketika informasi hadir dalam hitungan detik. Video berdurasi satu menit mampu menjelaskan suatu konsep yang dahulu membutuhkan puluhan halaman bacaan. Berbagai platform digital menawarkan jawaban cepat atas hampir semua pertanyaan.
Kehadiran kecerdasan buatan bahkan memungkinkan seseorang memperoleh rangkuman sebuah buku hanya dalam beberapa detik. Kemajuan ini tentu membawa manfaat besar. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah pendidikan sedang kehilangan ruang untuk menumbuhkan ketekunan, kesabaran, dan kemampuan berpikir mendalam?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika berbagai indikator pendidikan menunjukkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi akses terhadap informasi, melainkan kemampuan untuk mengolah informasi secara kritis dan mendalam. Sekolah kini berhadapan dengan generasi yang tumbuh dalam budaya kecepatan. Di sinilah pendidikan menghadapi ujian terbesarnya.
Budaya Instan dan Menurunnya Ketahanan Belajar
Budaya instan pada dasarnya merupakan kecenderungan untuk menginginkan hasil secara cepat dengan usaha seminimal mungkin. Dalam konteks masyarakat digital, budaya ini diperkuat oleh algoritma media sosial yang menyajikan informasi singkat, cepat, dan terus berganti. Akibatnya, perhatian manusia semakin terbiasa berpindah dari satu informasi ke informasi lain tanpa proses refleksi yang cukup.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada peserta didik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membaca dan kemampuan memahami teks yang kompleks masih menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan Indonesia. Hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai tingkat kompetensi minimum dalam literasi membaca. Artinya, sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan memahami, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi yang mereka baca.
Data lain menunjukkan bahwa sekitar 74,5 persen siswa Indonesia berada di bawah level kompetensi minimum membaca. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kemampuan memahami teks secara mendalam masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan nasional.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola konsumsi informasi generasi muda. Kajian literatur yang dilakukan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa kebiasaan membaca siswa Indonesia cenderung rendah dan dipengaruhi oleh penggunaan teknologi digital, terutama telepon pintar dan komputer.
Fenomena ini tidak berarti teknologi merupakan musuh pendidikan. Persoalannya terletak pada perubahan pola interaksi dengan pengetahuan. Ketika siswa semakin terbiasa memperoleh informasi dalam bentuk yang serba ringkas, cepat, dan visual, kemampuan untuk bertahan membaca teks panjang, menganalisis argumen, serta melakukan refleksi kritis menjadi semakin tergerus.
Padahal proses belajar sejatinya tidak pernah berlangsung secara instan. Menguasai matematika membutuhkan latihan berulang. Memahami teori sosial memerlukan pembacaan yang mendalam. Menghasilkan karya ilmiah membutuhkan kesabaran dalam mencari, mengolah, dan menguji data. Dengan kata lain, pendidikan selalu menuntut proses yang panjang. Ketika budaya instan menjadi norma sosial baru, ketahanan belajar perlahan mengalami erosi.
Ketika Informasi Melimpah Tetapi Pemahaman Menipis
Ironisnya, generasi saat ini merupakan generasi dengan akses informasi terbesar sepanjang sejarah manusia. Jutaan artikel, buku digital, video pembelajaran, dan sumber pengetahuan tersedia hanya melalui sentuhan jari. Namun kelimpahan informasi ternyata tidak otomatis menghasilkan kedalaman pemahaman.
Banyak peserta didik mampu menemukan jawaban dalam hitungan detik, tetapi tidak selalu mampu menjelaskan mengapa jawaban tersebut benar. Mereka dapat mengakses berbagai sumber pengetahuan, tetapi sering kesulitan membedakan informasi yang valid dan yang menyesatkan. Situasi ini menunjukkan adanya perbedaan mendasar antara memperoleh informasi dan memahami informasi.
Dalam masyarakat digital, tantangan pendidikan telah bergeser. Jika pada masa lalu sekolah berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan, kini sekolah harus menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap pengetahuan yang berlimpah.
Berbagai studi menunjukkan bahwa membaca teks secara mendalam masih memiliki hubungan yang kuat dengan kemampuan memahami informasi. Penelitian internasional bahkan menemukan bahwa pemahaman bacaan cenderung lebih baik ketika seseorang berinteraksi secara serius dengan teks dibandingkan sekadar mengonsumsi informasi singkat yang terfragmentasi.
Masalahnya, budaya media sosial mendorong logika konsumsi yang berbeda. Konten yang paling menarik sering kali bukan yang paling mendalam, melainkan yang paling cepat menarik perhatian. Dalam situasi seperti ini, siswa berisiko mengembangkan pola belajar yang berorientasi pada kecepatan, bukan pemahaman.
Gejala tersebut terlihat dalam berbagai praktik sehari-hari. Banyak siswa lebih tertarik mencari rangkuman dibanding membaca sumber asli. Sebagian lebih memilih menonton video singkat daripada membaca buku. Bahkan dalam beberapa kasus, tugas sekolah diselesaikan dengan menyalin informasi yang tersedia secara daring tanpa proses analisis yang memadai.
Kondisi ini tentu tidak dapat sepenuhnya disalahkan kepada peserta didik. Mereka tumbuh dalam lingkungan sosial yang memang memuja kecepatan. Dunia kerja menginginkan hasil cepat. Media sosial menghargai respons cepat. Teknologi menjanjikan solusi cepat. Akibatnya, kesabaran sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak relevan dengan kehidupan modern.
Padahal kemampuan berpikir mendalam justru menjadi kompetensi yang semakin penting di tengah banjir informasi. Di era kecerdasan buatan, kemampuan mengingat fakta mungkin tidak lagi menjadi keunggulan utama manusia. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menghubungkan berbagai informasi menjadi pengetahuan yang bermakna. Kemampuan tersebut hanya dapat tumbuh melalui proses belajar yang tidak instan.
Mengembalikan Nilai Proses dalam Pendidikan
Menghadapi budaya instan, sekolah tidak mungkin melawan teknologi. Upaya tersebut justru akan membuat pendidikan semakin jauh dari realitas kehidupan peserta didik. Yang perlu dilakukan adalah mengembalikan nilai proses ke dalam pengalaman belajar.
Pertama, sekolah perlu membangun budaya literasi yang tidak sekadar menargetkan jumlah bacaan, tetapi juga kualitas pemahaman. Membaca tidak boleh dipandang sebagai aktivitas administratif untuk memenuhi tugas. Membaca harus menjadi ruang dialog antara peserta didik dengan gagasan-gagasan besar yang membentuk cara mereka memahami dunia.
Kedua, pembelajaran perlu dirancang untuk menghargai proses berpikir. Selama ini sistem pendidikan sering kali terlalu fokus pada hasil akhir berupa nilai dan skor. Akibatnya, peserta didik terdorong mencari jalan tercepat untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Ketika proses tidak dihargai, budaya instan menemukan tempat yang subur untuk berkembang.
Ketiga, pendidikan karakter perlu dimaknai ulang sesuai konteks zaman. Pendidikan karakter tidak cukup hanya berbicara tentang sopan santun atau kedisiplinan. Di era digital, karakter juga mencakup kemampuan mengendalikan diri, menunda kepuasan, memverifikasi informasi, serta bertahan dalam proses belajar yang panjang. Ketekunan dan kesabaran bukan lagi sekadar nilai moral, melainkan keterampilan hidup yang sangat penting.
Keempat, guru perlu diposisikan sebagai fasilitator refleksi, bukan sekadar penyampai informasi. Informasi saat ini tersedia di mana-mana. Yang tidak mudah ditemukan adalah kemampuan untuk memahami makna di balik informasi tersebut. Di sinilah peran guru menjadi semakin penting.
Pendidikan pada akhirnya bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang mampu berpikir, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan secara bijaksana. Semua kemampuan itu tidak lahir dari jalan pintas.
Budaya instan mungkin merupakan ciri zaman yang tidak dapat dihindari. Namun sekolah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa peserta didik tidak kehilangan kemampuan menjalani proses. Sebab kehidupan yang bermakna tidak dibangun dalam hitungan detik. Pengetahuan yang mendalam tidak lahir dari rangkuman semata. Dan pendidikan yang sejati tidak pernah tumbuh dari cara-cara yang instan.
Ketika dunia semakin memuja kecepatan, mungkin tugas terpenting sekolah hari ini adalah mengajarkan kembali nilai kesabaran. Sebab di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk berhenti, membaca, berpikir, dan merenung justru menjadi bentuk kecerdasan yang paling berharga.













