kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

UMI Catat 45 Paten Granted, Kepala BRIN Puji Budaya Inovasi Kampus

UMI Catat 45 Paten Granted, Kepala BRIN Puji Budaya Inovasi Kampus
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, saat menghadiri International Conference Pascasarjana UMI 2026 (dok. Ist)

KabarMakassar.com — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, mengapresiasi capaian riset Universitas Muslim Indonesia (UMI), khususnya pengembangan varietas tanaman baru yang dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung agenda kemandirian pangan nasional. Apresiasi tersebut disampaikan saat menghadiri International Conference Pascasarjana UMI 2026 di Auditorium Al-Jibra UMI, Senin (8/6/2026).

Forum ilmiah internasional tersebut dihadiri akademisi, peneliti, praktisi, pimpinan perguruan tinggi, mitra industri, serta peserta dari berbagai negara. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-72 Universitas Muslim Indonesia.

Dalam paparannya, Arif Satria menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak inovasi berbasis riset yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, sektor pangan menjadi salah satu bidang strategis yang membutuhkan dukungan penelitian dan inovasi berkelanjutan.

“Terobosan varietas tanaman yang dikembangkan oleh peneliti Universitas Muslim Indonesia merupakan langkah yang sangat positif. Inovasi seperti ini membuka peluang besar bagi penguatan kemandirian pangan nasional sekaligus menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Arif Satria.

Ia menilai masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan bangsa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.

Arif juga menekankan pentingnya peran kampus sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. Menurutnya, riset yang aplikatif dan relevan menjadi kunci dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan.

“UMI memiliki peluang besar untuk menjadi pusat kolaborasi ilmu pengetahuan di kawasan Indonesia Timur dengan memperkuat budaya riset, memperluas jejaring internasional, dan mengembangkan penelitian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor UMI, Prof. Hambali Thalib, menegaskan bahwa penguatan budaya riset dan inovasi menjadi salah satu prioritas utama pengembangan kampus. Langkah tersebut dilakukan untuk menjawab tuntutan dunia pendidikan tinggi yang semakin kompetitif dan dinamis.

Menurut Hambali, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah. Kampus juga harus mampu melahirkan solusi konkret terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“UMI tidak ingin hanya menjadi penghasil ijazah. UMI ingin menjadi penghasil solusi. Ukuran keberhasilan universitas bukan hanya jumlah lulusan atau publikasi, tetapi sejauh mana ilmu pengetahuan mampu menyelesaikan persoalan masyarakat,” tegas Prof. Hambali.

Dalam kesempatan tersebut, Hambali memaparkan sejumlah capaian UMI di bidang kekayaan intelektual dan inovasi hingga Juni 2026. UMI tercatat telah mengajukan 85 permohonan paten, memperoleh 45 paten granted, memiliki 511 hak cipta terdaftar, dua merek terdaftar, serta satu Perlindungan Varietas Tanaman yang kini memasuki tahap pelepasan varietas.

Menurut Hambali, capaian tersebut mencerminkan tumbuhnya budaya inovasi di lingkungan kampus. Ia menegaskan bahwa hasil penelitian harus mampu memberikan manfaat nyata dan tidak berhenti pada proses administrasi atau dokumentasi semata.

“Paten yang baik bukanlah paten yang tersimpan di lemari. Paten yang baik adalah paten yang bekerja, digunakan, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Karena itu, kami terus mendorong agar hasil-hasil penelitian UMI dapat berkembang menjadi teknologi tepat guna, produk inovatif, perusahaan rintisan berbasis kampus, maupun solusi yang menjawab kebutuhan bangsa,” ujarnya.

Sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di Indonesia Timur, UMI saat ini juga mengarahkan pengembangan riset pada sejumlah sektor strategis. Di antaranya meliputi kelautan, biodiversitas tropis, pangan, energi hijau, industri halal, ekonomi syariah, hingga kecerdasan buatan.

Dalam forum tersebut, UMI turut menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi dengan BRIN pada berbagai bidang prioritas nasional. Kerja sama itu mencakup pengembangan pusat riset halal, teknologi kelautan, pangan tropis, energi terbarukan, transformasi digital, dan penguatan ekosistem inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.

Hambali juga menawarkan gagasan menjadikan UMI sebagai Living Laboratory Indonesia Timur. Konsep tersebut diharapkan menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, nilai-nilai keislaman, dan kebutuhan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Hambali menegaskan bahwa masa depan perguruan tinggi sangat ditentukan oleh kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dan membangun kolaborasi yang luas. Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan pembangunan bangsa.

“Jika BRIN adalah lokomotif riset nasional, maka UMI siap menjadi salah satu gerbong inovasi Indonesia Timur yang bergerak pada rel yang sama, yaitu menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak bagi kemajuan bangsa, kemanusiaan, dan masa depan Indonesia,” pungkasnya.

error: Content is protected !!