KabarMakassar.com — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyoroti posisi industri kerajinan Indonesia yang belum mampu menembus jajaran 10 besar dunia.
Padahal, Indonesia dinilai memiliki ragam produk kerajinan paling beragam dibandingkan negara lain.
Tito menyebut kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Kekayaan budaya hingga melimpahnya bahan baku dinilai belum sepenuhnya dikonversi menjadi kekuatan ekonomi.
“Kita belum masuk ke dalam 10 besar dunia produsen kerajinan. Ini PR kita, pekerjaan rumah kita,” kata Tito saat menutup rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Minggu (12/7).
Menurut Tito, persaingan industri kerajinan dunia kini masih diisi negara-negara seperti China dan India. Di kawasan Asia Tenggara, Vietnam dan Thailand juga dinilai memiliki posisi kuat melalui produk unggulan masing-masing.
Di sisi lain, pasar kerajinan global terus tumbuh seiring meningkatnya permintaan terhadap produk seni dan kerajinan. Tito menyebut potensi penjualan industri tersebut mencapai hampir Rp500 triliun per tahun.
China sendiri, kata dia, mampu mengambil porsi sekitar Rp90 triliun dari pasar tersebut karena produksi kerajinan dilakukan secara masif.
“Potensi global penjualan kerajinan, seiring dengan permintaan penduduk dunia yang meningkat terhadap kerajinan dan seni, itu lebih kurang hampir Rp500 triliun per tahun. Rp90 triliun di antaranya oleh China karena mereka masif membuat produk,” ujarnya.
Tito menilai Indonesia sebenarnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara. Ribuan kelompok budaya dengan karakter wilayah berbeda melahirkan ragam kerajinan yang sangat luas.
“Keunggulan Indonesia adalah, ‘Indonesia is the most diverse handicraft in the world’. Jadi yang paling beragam sedunia itu adalah Indonesia, produk-produknya,” tegasnya.
Ia membandingkan Indonesia dengan sejumlah negara yang dikenal melalui produk kerajinan tertentu. Vietnam, misalnya, memiliki kekuatan pada keramik dan porselen, sementara India dikenal melalui produk perhiasan.
Indonesia justru memiliki kerajinan dengan karakter berbeda hampir di setiap daerah. Tito mengatakan kondisi geografis dan keberagaman suku menjadi faktor utama lahirnya produk khas tersebut.
“Kita negara plural. Suku-suku masing-masing memiliki kekhasannya sendiri. Ada yang di gunung, ada yang tinggal di laut, produknya juga beda-beda,” katanya.
Namun, potensi besar tersebut dinilai belum dikelola secara maksimal. Tito bahkan menyoroti banyak bahan mentah yang sebenarnya bisa menjadi produk bernilai tinggi justru berakhir sebagai limbah.
Ia mencontohkan cangkang mutiara dari kawasan Misool, Raja Ampat. Selama ini, pelaku usaha lebih banyak mengambil mutiara, sementara cangkangnya dibuang dalam jumlah besar.
Padahal, Tito menyebut material cangkang mutiara memiliki nilai tinggi jika diolah dan digunakan pada produk premium.
“Yang diambil hanya mutiaranya saja. Cangkangnya itu bagus sekali. Di tempat kita berlimpah-limpah, sementara satu potong kalau menjadi produk bisa mahal,” ungkap Tito.
Ia menceritakan cangkang mutiara yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kemudian dikembangkan menjadi bahan kerajinan. Masyarakat, khususnya kelompok perempuan, diberdayakan untuk menghasilkan beragam produk dari material tersebut.
“Yang diambil hanya mutiaranya, cangkangnya dibuang begitu saja, berkarung-karung. Ini hanya satu contoh. Artinya, Indonesia punya banyak sekali potensi luar biasa, tapi belum tergali,” ujarnya.
Persoalan serupa juga terlihat pada produk tenun dan kerajinan tradisional. Tito mengatakan sejumlah produk tua dan langka asal Indonesia justru diburu kolektor dari negara-negara Barat.
Kerajinan Asmat hingga kain tenun berusia puluhan tahun menjadi produk yang dicari karena memiliki karakter unik dan tidak diproduksi secara massal.
“Dihunting sama mereka karena langka. Kerajinan Asmat juga dihunting, langka, unik. Tapi kita sendiri kadang-kadang tidak menyadari, orang luar yang memanfaatkan,” katanya.
Karena itu, Tito meminta pemerintah daerah bersama Dekranasda aktif mencari dan memetakan potensi kerajinan khas di wilayah masing-masing. Produk tersebut harus didorong berkembang agar memiliki daya saing dan mampu masuk ke pasar yang lebih luas.
“Seluruh ketua Dekranasda saya minta untuk berpikir, untuk hunting potensi kerajinan wilayah masing-masing yang khas dan mendorong supaya mereka bisa berkembang,” tegas Tito.
Menurutnya, pengembangan kerajinan tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya. Industri tersebut juga memiliki efek ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM dan pergerakan sektor riil.
“Problemnya adalah bagaimana kita bisa membuat potensi ini memiliki daya dongkrak maksimal. Kerajinan terjaga, seni budaya terjaga, mendatangkan multiplier positif ekonomi, lapangan kerja, UMKM dan sektor riil,” jelasnya.
Tito menilai pasar domestik Indonesia sendiri sudah menjadi modal besar bagi industri kerajinan. Namun, produk lokal tetap harus didorong untuk bersaing di pasar global.
“Kita bisa bersaing. Indonesia sendiri sudah menjadi market yang besar. Kalau kita bisa bersaing di tingkat global, lebih bagus lagi,” ujarnya.
Tito juga menilai HUT Dekranas ke-46 di Makassar menjadi salah satu ruang untuk kembali mengangkat potensi kerajinan nasional. Ia menegaskan dampak kegiatan tersebut tidak hanya terlihat dari transaksi pameran yang mencapai sekitar Rp4 miliar.
Kedatangan peserta dari seluruh Indonesia turut menggerakkan transportasi udara, kendaraan sewa, hotel, restoran hingga UMKM di Makassar. Bahkan, tingkat hunian sejumlah hotel dilaporkan penuh selama rangkaian kegiatan berlangsung.
“Transaksinya memang Rp4 miliar, tapi sebetulnya banyak efek yang lain. Sektor transportasi udara pasti bergerak, transportasi lokal, hotel penuh, restoran, belum lagi UMKM yang lain di luar transaksi stan-stan,” kata Tito.
Namun, Tito menegaskan nilai terbesar dari kegiatan Dekranas adalah menjaga sekaligus mendorong kerajinan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi. Kekayaan produk yang beragam, kata dia, tidak boleh hanya menjadi potensi tanpa mampu bersaing di tingkat dunia.
“Lebih dari itu, acara ini menghidupkan kembali potensi kerajinan Indonesia yang harus kita jaga dan kita kembangkan agar bisa menembus dunia,” tukas Tito.













