KabarMakassar.com — Pengelolaan sampah berbasis Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di Kelurahan Baru, Kota Makassar, terus menunjukkan nilai tambah ekonomi.
Melalui budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF), sampah organik tidak hanya berkurang, tetapi juga menghasilkan pendapatan hingga Rp500 ribu per hari.
Lurah Baru, Fajar Harianto, mengatakan sejak memulai pengelolaan sampah pada 2023, pihaknya tidak pernah menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama. Fokus utama adalah mengurangi timbunan sampah di wilayahnya sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
“Tujuan utama TPS 3R bukan untuk cuan, tetapi bagaimana sebagai pimpinan wilayah saya bisa mengelola sampah yang ada di wilayah saya. Nilai ekonominya itu menjadi bonus agar program ini bisa terus berkelanjutan,” kata Fajar, Kamis (06/08).
Menurutnya, perjalanan membangun sistem pengelolaan sampah tidak mudah. Pada tahap awal, ia bahkan menggunakan dana pribadi untuk membeli sampah dari warga agar masyarakat tertarik memilah sampah dari sumbernya.
“Awalnya saya keluar biaya sendiri sampai jutaan rupiah. Tidak langsung kembali karena banyak biaya operasional, mulai bahan bakar, kendaraan sampai tenaga kerja. Yang penting waktu itu sampah bisa terkelola,” ujarnya.
Fajar menjelaskan, berbagai jenis sampah yang masih memiliki nilai jual dimanfaatkan semaksimal mungkin. Material bekas seperti kayu, plastik hingga barang-barang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dipilah kembali agar dapat dijual.
“Itu yang selalu saya sampaikan kepada tim, apa yang masih bisa menjadi uang, jadikan uang. Jadi sampah tidak semuanya berakhir di tempat pembuangan,” tuturnya.
Salah satu inovasi yang kini menjadi andalan adalah budidaya maggot BSF sebagai pengolah sampah organik. Selain mampu mengurangi volume sampah, maggot juga memiliki nilai jual yang cukup tinggi di pasaran.
“Sekarang harga maggot di Makassar sekitar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu per kilogram. Produksi kami sudah mencapai 30 sampai 50 kilogram per hari, sehingga nilainya bisa sekitar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per hari,” ungkap Fajar.
Ia menambahkan, Kelurahan Baru juga menjalankan program penukaran pupa dengan telur maggot secara gratis untuk mendorong masyarakat membudidayakan BSF di lingkungan masing-masing. Program tersebut diharapkan memperluas pengolahan sampah organik berbasis masyarakat.
“Kami berikan telur maggot gratis bagi warga yang mengembalikan pupa. Walaupun bagi kami belum tentu menguntungkan, yang penting sampah masyarakat bisa terkelola,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya telah mengembangkan instalasi budidaya maggot berukuran sekitar 1 x 2 meter dengan empat rak yang diklaim mampu mengolah hingga 80 kilogram sampah organik setiap hari.
Fajar menilai, pendekatan ekonomi sirkular diperlukan agar pengelolaan sampah tetap berjalan ketika dukungan anggaran pemerintah berkurang. Namun ia menegaskan orientasi utama tetap pada pelayanan lingkungan, bukan mengejar keuntungan.
“Kalau bicara nilai ekonomi, itu bukan tujuan utama. Tujuan kami adalah lingkungan bersih dan pengelolaan sampah berkelanjutan. Nilai ekonominya menjadi penopang agar sistem ini tetap hidup,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat aktif memilah sampah dari rumah. Menurutnya, langkah paling sederhana yang dibutuhkan warga adalah memisahkan sampah organik dan residu sehingga proses pengolahan menjadi lebih mudah.
“Yang kami minta sebenarnya sederhana, warga cukup memilah sampah. Tidak ada kewajiban membuat kompos atau memelihara maggot. Dengan memilah saja, masyarakat sudah berkontribusi membantu pemerintah mengurangi sampah yang masuk ke TPA,” tukas Fajar.
