KabarMakassar.com – Simulasi Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Kota Makassar masih diwarnai sejumlah kendala teknis, dengan persoalan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) yang tidak terbaca di sistem menjadi keluhan utama.
Pemerintah Kota Makassar pun meminta sekolah-sekolah yang belum memperbarui data siswanya ke Kementerian Pendidikan agar segera bergerak cepat.
Tim Ahli Pemkot Makassar Bidang Percepatan Digitalisasi, Andi Gita Namira Patigana, mengatakan hasil penelusuran menunjukkan kendala tersebut bukan berasal dari sistem lokal, melainkan data induk siswa yang belum seluruhnya tersinkronisasi dari pusat.
“Data NISN yang digunakan sistem berasal langsung dari Kementerian Pendidikan. Jadi sekolah wajib lebih dulu melaporkan data siswanya. Kalau belum masuk di pusat, otomatis sistem tidak bisa membaca,” kata Gita, Sabtu (16/05).
Menurutnya, tim saat ini sedang memetakan sekolah-sekolah yang belum menuntaskan pelaporan data agar persoalan itu tidak menghambat proses penerimaan siswa baru.
“Kami sedang listing sekolah mana saja yang datanya belum terlapor. Ini harus segera dibereskan supaya siswa tidak terkendala saat pendaftaran resmi nanti,” ujarnya.
Masalah NISN bukan satu-satunya hambatan dalam simulasi yang berlangsung sejak 13 Mei lalu. Pemkot juga menerima banyak keluhan dari masyarakat terkait alur login yang dinilai membingungkan, terutama bagi orang tua yang baru pertama kali mengakses sistem digital SPMB.
Gita mengakui tim teknis langsung melakukan penyesuaian setelah menerima masukan publik. Menurutnya, alur sistem kini terus diperbaiki agar lebih mudah dipahami pengguna.
“Memang banyak yang bingung dengan flow login awal. Karena itu kami lakukan beberapa penyesuaian supaya lebih ramah bagi pengguna,” jelasnya.
Karena masih ditemukannya sejumlah hambatan, masa simulasi SPMB untuk jenjang TK, SD, dan SMP diperpanjang hingga 21 Mei 2026. Langkah ini diambil agar masyarakat memiliki waktu lebih banyak untuk mencoba sistem sebelum pendaftaran resmi dibuka.
Di sisi lain, Pemkot juga mewaspadai potensi gangguan server akibat lonjakan akses saat pendaftaran berlangsung. Untuk mengantisipasi hal itu, server dipisahkan berdasarkan jenjang pendidikan dan telah diuji melalui simulasi beban pengguna.
“Kalau pengguna masuk bersamaan, risikonya server bisa down. Makanya server kami pisahkan per jenjang dan sudah dilakukan pen-test beberapa kali untuk memastikan kapasitasnya aman,” tukas Gita.














