KabarMakassar.com — Pernah merasa hidup kita baik-baik saja, lalu tiba-tiba terasa kurang setelah melihat pencapaian orang lain di media sosial? Melihat teman naik jabatan, menikah, punya rumah, liburan, atau terlihat semakin sukses kadang membuat kita berpikir, “Kok dia sudah sejauh itu, sedangkan saya masih begini-begini saja?” Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain disebut social comparison atau perbandingan sosial. Sebenarnya, hal ini wajar dan hampir semua orang pernah melakukannya.
Kita sering melihat orang lain untuk menilai kemampuan, penampilan, karier, hubungan, atau pencapaian diri. Namun, social comparison bisa menjadi motivasi sekaligus ancaman bagi kesehatan mental.
Social Comparison Tidak Selalu Buruk
Membandingkan diri dengan orang lain tidak selalu membawa dampak negatif. Dalam kondisi tertentu, keberhasilan orang lain dapat membuat kita lebih termotivasi.
Misalnya, ketika melihat rekan kerja mendapatkan promosi, kita bisa terdorong untuk belajar lebih banyak, meningkatkan keterampilan, atau mulai merencanakan perkembangan karier. Dalam situasi seperti ini, orang lain menjadi sumber inspirasi.
Kita tidak sibuk merasa kalah, tetapi mencoba memahami apa yang bisa dipelajari dari perjalanan mereka. Social comparison menjadi sehat ketika membuat kita berpikir, “Kalau dia bisa berkembang, mungkin saya juga bisa mulai mencoba.”
Kapan Perbandingan Menjadi Tidak Sehat?
Masalah muncul ketika hidup orang lain dijadikan standar utama untuk menilai harga diri. Kita mulai merasa gagal hanya karena belum memiliki hal yang dimiliki orang lain. Kita sulit menghargai pencapaian sendiri karena selalu ada seseorang yang terlihat lebih berhasil, lebih cantik, lebih kaya, atau lebih bahagia. Padahal, kita sering membandingkan keseluruhan hidup sendiri dengan sebagian kecil kehidupan orang lain yang terlihat dari luar.
Kita mengetahui kegagalan, rasa takut, kelelahan, dan masalah dalam hidup sendiri. Sementara itu, dari orang lain, kita hanya melihat foto terbaik, kabar bahagia, dan pencapaian yang sengaja dibagikan. Singkatnya, kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan versi pilihan kehidupan orang lain. Tentu saja hasilnya sering terasa tidak adil.
Media Sosial Membuat Kita Mudah Merasa Tertinggal
Media sosial bukan satu-satunya penyebab social comparison, tetapi membuat kebiasaan ini semakin sering terjadi. Dalam beberapa menit, kita bisa melihat banyak orang sedang merayakan keberhasilannya. Ada yang baru lulus, menikah, mendapat pekerjaan, membuka usaha, atau pergi berlibur. Tanpa sadar, kita merasa semua orang sedang maju, sementara hidup kita tidak bergerak ke mana-mana. Padahal, media sosial hanya menunjukkan potongan kehidupan. Tidak semua orang membagikan kegagalan, konflik, masalah keuangan, rasa sepi, atau kecemasan yang mereka alami.
Apa yang terlihat sempurna belum tentu benar-benar tanpa masalah.
Dampaknya bagi Kesehatan Mental
Jika dilakukan terus-menerus, social comparison dapat membuat seseorang merasa tidak pernah cukup. Pencapaian yang sebenarnya layak dibanggakan menjadi terasa biasa saja.
Kita mudah merasa iri, rendah diri, cemas, kecewa, atau kehilangan kepercayaan diri. Perbandingan sosial juga dapat membuat seseorang mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar ia inginkan. Ia memilih pekerjaan, gaya hidup, pasangan, atau barang tertentu hanya karena takut dianggap tertinggal.
Akhirnya, hidup dijalani untuk memenuhi standar orang lain, bukan berdasarkan kebutuhan dan nilai pribadi. Mengubah Perbandingan Menjadi Lebih Sehat Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya berhenti membandingkan diri.
Namun, kita bisa mengubah cara meresponsnya. Ketika melihat keberhasilan orang lain, cobalah bertanya: “Apa yang bisa saya pelajari dari orang ini?” Pertanyaan tersebut lebih sehat daripada langsung berkata: “Saya tidak sebaik dia.” Rasa iri juga bisa menjadi petunjuk.
Jika kita iri pada seseorang yang memiliki pekerjaan fleksibel, mungkin yang sebenarnya kita inginkan adalah kebebasan waktu. Jika iri pada pencapaian orang lain, mungkin kita sedang membutuhkan penghargaan atau kesempatan untuk berkembang.
Dengan memahami kebutuhan di balik rasa iri, kita bisa menentukan langkah yang lebih sesuai dengan kehidupan sendiri. Bandingkan Diri dengan Diri Sendiri Daripada terus melihat seberapa jauh orang lain melangkah, sesekali lihat kembali perkembangan diri sendiri.
Apakah kita lebih berani dibandingkan tahun lalu? Apakah kita lebih mampu menghadapi masalah? Apakah kita sudah mulai bisa menetapkan batasan, meminta bantuan, atau menghargai diri sendiri? Tidak semua perkembangan terlihat melalui jabatan, uang, rumah, atau penghargaan.
Ada perubahan kecil yang tidak terlihat oleh orang lain, tetapi sangat berarti bagi kesehatan mental. Belajar berkata tidak, berani beristirahat, keluar dari situasi yang tidak sehat, atau mampu bangkit setelah gagal juga merupakan bentuk kemajuan.
Jadi, Motivasi atau Ancaman? Social comparison bisa menjadi keduanya. Ia menjadi motivasi ketika keberhasilan orang lain digunakan sebagai bahan belajar dan inspirasi. Namun, ia menjadi ancaman ketika kita menggunakannya untuk merendahkan diri dan menentukan harga diri.
Kita boleh mengagumi perjalanan orang lain tanpa harus merasa gagal. Kita juga boleh memiliki jalur dan waktu yang berbeda.
Orang lain bisa menjadi referensi, tetapi bukan hakim bagi kehidupan kita. Pada akhirnya, social comparison akan terasa lebih sehat ketika kita mampu berkata: “Saya bisa belajar dari perjalanan orang lain, tetapi saya tetap berhak menjalani perjalanan saya sendiri.”
