KabarMakassar.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Selasa (22/09). Rupiah dibuka melemah atas dolar Amerika Serikat (AS), usai melanjutkan tren penurunan yang terjadi pada hari sebelumnya.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengalami koreksi sebanyak 0,20 persen ke posisi Rp17.860 per dolar AS saat pembukaan pasar. Posisi tersebut merosot jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada Senin kemarin yang berada di level Rp17.830 per dolar AS setelah melemah sebesar 0,56 persen.
Saat ini, pergerakan rupiah tengah dibayangi oleh sentimen eksternal dan domestik. Dari dalam negeri, pelaku pasar tengah berfokus pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Dengan keputusan RDG tersebut bakal menjadi momen perdana untuk Destry Damayanti usai resmi dilantik sebagai Gubernur BI definitif.
Pada RDG Agustus, ketika Destry masih menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI, bank sentral memilih untuk menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen untuk menjaga stabilitaas rupiah, mengendalikan inflasi di kisaran 2,5±1 persen, juga menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Konsesus pasar memperoyeksi BI bakal mempertahankan BI Rate di level 5, 75 persen. Begitu pula dengan suku bunga deposit facility serta lending facility yang diprediksikan tetap masing-masing di angka 4,75 persen serta 6,5 persen.
Sedangkan, dari faktor global, penguatan dolar AS terdorong oleh langkah The Fed yang menaikkan suku bunga acuan juga memberi sinyal pengetatan moneter susulan.
Berdasarkan data CME FedWatch, ekspektasi pasar atas kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober akan mengalami lonjakan ke angka 55 persen yakni naik dari posisi 43 persen pada pekan lalu.













