KabarMakassar.com — Ancaman El Nino yang diprediksi mencapai puncaknya pada September 2026 mulai memantik kekhawatiran terhadap ketersediaan air bersih di Kota Makassar.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar mengingatkan Perumda Air Minum agar tidak membiarkan krisis air kembali menghantam warga, terutama di wilayah utara kota.
Anggota Komisi B DPRD Kota Makassar, Basdir, menegaskan persoalan air bersih di kawasan utara dan timur Makassar bukan masalah baru. Kesulitan mendapatkan pasokan air telah berlangsung bertahun-tahun dan hingga kini dinilai belum memiliki solusi permanen.
“Persoalan air di utara kota dan timur kota itu persoalan menahun. Sudah bertahun-tahun, bahkan di atas 10 tahun, hampir tidak ada solusi yang permanen,” kata Basdir digedung sementara DPRD kota Makassar, jalan Letjen Hertasning, Rabu (15/07).
Menurut Basdir, langkah Perumda Air Minum Makassar mengaktifkan pompa dalam beberapa waktu terakhir memang mulai memberi dampak positif. Sebagian wilayah utara kini telah mendapatkan suplai air.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan masalah. Basdir menyebut masih ada sejumlah titik yang sama sekali belum teraliri air, sementara wilayah lainnya hanya menerima pasokan dalam jumlah terbatas.
“Sekarang saja masih ada spot, masih ada daerah di utara yang tidak ada airnya. Ada juga yang suplai airnya masih minim. Ini harus menjadi catatan dan perhatian PDAM,” ujarnya.
Kondisi itu dinilai semakin mengkhawatirkan setelah Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar memprakirakan fenomena El Nino berlangsung di Sulawesi Selatan, termasuk Makassar, hingga Oktober 2026.
Puncak dampak El Nino diperkirakan terjadi pada September. Suhu udara di Makassar bahkan berpotensi mencapai 36 derajat Celsius.
Basdir khawatir kondisi cuaca tersebut kembali menekan ketersediaan sumber air baku dan berujung pada terganggunya distribusi air ke masyarakat.
“Kalau PDAM tidak melakukan langkah taktis sesegera mungkin, maka kejadian kemarin-kemarin akan kembali berulang,” tegasnya.
Ia meminta Perumda Air Minum tidak hanya bergantung pada pasokan air baku dari Lekopancing. Sumber air alternatif dinilai perlu dimaksimalkan sebagai langkah antisipasi apabila debit air mengalami penurunan saat El Nino.
Basdir mencontohkan aliran sungai di kawasan Manggala yang disebut tetap memiliki air. Menurutnya, Perumda Air Minum harus menyiapkan skema pemompaan dan pengolahan sumber air alternatif jika pasokan dari Lekopancing berkurang.
“Kalau suplai air dari Lekopancing kurang, harus ada upaya lain. Ada aliran sungai di Manggala yang tidak pernah kering. Ini yang harus dipompa lagi masuk. Harus ada upaya-upaya seperti itu,” katanya.
Selain mengamankan sumber air baku, seluruh armada mobil tangki juga diminta dalam kondisi siap beroperasi. Armada tersebut harus segera dikerahkan ke wilayah terdampak apabila terjadi gangguan distribusi air bersih.
“PDAM juga harus mengaktifkan seluruh mobil tangki untuk mengantisipasi situasi darurat. Apa yang dilakukan baru-baru ini kita apresiasi karena berdampak positif ke warga, tetapi itu tidak cukup kalau terjadi El Nino,” jelas Basdir.
Komisi B DPRD Makassar sebelumnya telah menyinggung ancaman El Nino saat melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) bersama Perumda Air Minum PDAM. Dalam pertemuan tersebut, manajemen perusahaan daerah itu menyatakan siap melakukan langkah antisipasi.
Sejumlah pompa yang tersedia akan diaktifkan. Perbaikan jaringan perpipaan juga disebut bakal dilakukan untuk mengurangi hambatan distribusi air menuju wilayah utara Makassar.
“Waktu monev kami sudah sampaikan kemungkinan El Nino seperti beberapa tahun lalu. Mereka menyampaikan siap mengantisipasi dengan mengaktifkan beberapa pompa yang masih ada. Jaringan pipa juga akan diperbaiki supaya distribusi ke utara tidak terhambat,” ungkapnya.
Meski demikian, Basdir menegaskan kesiapan tersebut akan diuji ketika Makassar memasuki puncak El Nino. Komisi B DPRD Makassar akan mengevaluasi kinerja PDAM apabila warga kembali mengalami krisis air.
“Kalau ke depan pada saat El Nino masyarakat di utara kota kembali menjerit, tentu ini menjadi bahan evaluasi bagi kami di Komisi B,” tegas Basdir.
Ia pun mengingatkan agar laporan kesiapan yang disampaikan PDAM dalam rapat benar-benar terealisasi di lapangan.
“Jangan sampai di rapat saja laporannya bagus, tetapi faktanya tidak seperti itu,” tukasnya.
