KabarMakassar.com — Prof Aidir Amin Daud menerima penghargaan Lifetime Achievement atas perjalanan panjangnya di dunia jurnalistik, akademik, hingga kiprahnya sebagai Ketua KPU Sulawesi Selatan dari KabarMakassar.
Penghargaan itu diserahkan langsung oleh CEO KGI Upi Asmaradhana di HUT Kabar Makassar di Bikin-Bikin Hub, Nipah Park, Kota Makassar, Sabtu (29/08) malam.
Prof Aidir Amin Daud merupakan sosok yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia jurnalistik dan pers di Sulawesi Selatan. Ia menjadi bagian dari Harian Fajar sejak media tersebut didirikan, dan mengabdikan dirinya di ruang redaksi hingga tahun 2003.
Perjalanannya di Harian Fajar dimulai dari bawah sebagai reporter. Dari kerja-kerja jurnalistik di lapangan, ketekunan, pengalaman, dan kapasitas kepemimpinannya kemudian membawanya menempati berbagai jenjang tanggung jawab hingga dipercaya menjadi Kepala Redaksi Harian Fajar.
Jejak panjang tersebut bukan sekadar perjalanan karier. Ia menjadi bagian dari proses tumbuh dan berkembangnya salah satu institusi pers penting di Sulawesi Selatan, sekaligus ikut membangun tradisi jurnalistik yang menempatkan informasi, profesionalisme, dan kepentingan publik sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Dari reporter hingga memimpin ruang redaksi, Prof Aidir Amin Daud memperlihatkan bahwa dunia pers membutuhkan ketekunan, keberanian, integritas, serta kesediaan untuk terus belajar dan mengabdi.
Pengalaman dan pengabdiannya menjadi bagian dari sejarah perjalanan jurnalistik di Sulawesi Selatan serta inspirasi bagi generasi wartawan setelahnya.
Atas perjalanan panjang, dedikasi, dan pengabdiannya dalam dunia jurnalistik serta kontribusinya bagi perkembangan pers di Sulawesi Selatan, KabarMakassar memberikan penghargaan Lifetime Achievement kepada Prof Aidir Amin Daud.
Penghargaan tersebut disambut Prof Aidir dengan nada rendah hati. Ia mengaku tidak pernah membayangkan akan menerima penghargaan atas pencapaian sepanjang perjalanan hidupnya.
“Saya ini tidak pernah dalam hidup punya Lifetime Achievement. Tidak pernah punya semangat berprestasi. Kebetulan-kebetulan saja selalu saya,” kata Aidir saat menerima penghargaan.
Di usianya yang kini menginjak 69 tahun, Aidir juga mulai menyinggung masa pensiunnya sebagai akademisi di Universitas Hasanuddin (Unhas). Ia menyebut masa pengabdiannya di kampus tinggal sekitar satu tahun lagi.
“Saya ini sudah 69 tahun saya tahun ini. Jadi lagi satu tahun saya pensiun dari Unhas,” ujarnya.
Meski memasuki masa akhir pengabdian sebagai akademisi, aktivitas Prof Aidir di dunia tulis-menulis hingga kini masih berjalan. Ia mengungkapkan telah menulis untuk Harian Fajar sejak era 1990-an dan masih rutin mengisi kolom setiap pekan.
“Saya menulis di Beranda itu sejak tahun 90-an. Kolom Harian Fajar sampai hari ini saya menulis. Jadi setiap Senin saya menulis,” katanya.
Prof Aidir mengaku rutinitas menulis tersebut menjadi tantangan tersendiri seiring bertambahnya usia. Ia bahkan kerap merasa kesulitan menentukan topik yang akan ditulis setiap pekan.
“Setiap Senin saya pusing apa yang mau ditulis. Karena kan saya juga makin menua,” tuturnya.
Sebelum terjun ke dunia penyelenggaraan pemilu, Prof Aidir lebih dahulu dikenal sebagai wartawan. Ia menyebut perjalanan sebagai jurnalis dijalaninya hingga sekitar 2004 sebelum kemudian memasuki fase baru sebagai Ketua KPU Sulsel.
“Saya ini jadi wartawan, saya kira sampai tahun 2004. Saya pensiun, jadi Ketua KPU Sulsel,” ungkapnya.
Penghargaan Lifetime Achievement tersebut pun menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap perjalanan panjang Aidir yang mencakup berbagai bidang, mulai dari jurnalistik, akademik hingga pengalaman di lembaga penyelenggara pemilu.
Menutup sambutannya, Aidir menyampaikan terima kasih kepada pihak yang memberikan penghargaan tersebut.
“Saya berterima kasih sekali lagi atas penghargaan yang diberikan,” tuturnya.













