kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Perpusnas Soroti Pentingnya Penyimpanan Cetak Bersama di Tengah Arus Digitalisasi

Perpusnas Soroti Pentingnya Penyimpanan Cetak Bersama di Tengah Arus Digitalisasi
Ilustrasi perpustakaan (Dok : Int).

KabarMakassar.com — Di tengah keterbatasan ruang fisik dan meningkatnya digitalisasi, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menegaskan pentingnya kolaborasi antar-lembaga dalam penyimpanan koleksi tercetak secara bersama.

Pustakawan Ahli Utama Perpusnas, Teguh Purwanto menyampaikan bahwa mempertahankan koleksi bahan cetak bukan sekadar persoalan teknis, melainkan berkaitan erat dengan pelestarian sejarah, budaya, dan pengetahuan bangsa.

“Koleksi cetak adalah jejak sejarah, bukti budaya, sekaligus warisan intelektual yang tidak boleh kita abaikan. Penyimpanan cetak bersama adalah upaya kolaboratif lintas institusi, wilayah, bahkan negara untuk menjaga keberlanjutan akses pengetahuan,” ujarnya, Senin (22/09).

Dia menjelaskan bahwa konsep penyimpanan koleksi tercetak bersama telah lama diterapkan di berbagai negara. Sejak tahun 1940-an, perpustakaan di kawasan New England, Amerika Serikat, telah memulai praktik ini. Model serupa juga berkembang di Kanada, Inggris, Finlandia, dan Australia.

“Contohnya di Amerika Serikat ada Five-College Library Repository, di Inggris ada United Kingdom Research Reserve (UKRR), dan di Australia ada CARM Centre. Semua model ini membuktikan bahwa penyimpanan kolektif mampu menghemat ruang sekaligus menjaga akses ke koleksi penting,” ungkap Teguh.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ada berbagai model penyimpanan yang bisa diadopsi, seperti model negara, konsorsium, hingga kepemilikan tunggal. Namun, Teguh menekankan bahwa implementasinya memerlukan fondasi kuat berupa komitmen, transparansi, dan kepercayaan antar lembaga.

Teguh juga menyoroti sejumlah tantangan dalam mewujudkan sistem penyimpanan kolektif, mulai dari isu kepemilikan, kekhawatiran terhadap kehilangan koleksi, keterbatasan data yang akurat, hingga pembiayaan jangka panjang. Ia menekankan pentingnya perencanaan strategis dan pemanfaatan teknologi informasi.

“Penyimpanan cetak bersama bukan sekadar strategi menghemat ruang, tetapi juga cerminan semangat kolaborasi. Perpustakaan tidak bisa menyimpan semua hal, namun bisa menyimpan yang paling bernilai secara bersama, efisien, dan terencana,” jelasnya.

Menutup amanatnya, Teguh mengajak seluruh pemangku kepentingan dunia perpustakaan untuk melihat tantangan ini sebagai peluang kerja sama jangka panjang.

“Kalau ingin pergi cepat, pergilah sendiri. Tapi kalau ingin pergi jauh, pergilah bersama. Perpustakaan perlu berjalan bersama untuk mewujudkan sistem penyimpanan cetak yang berkelanjutan, efektif, dan bermanfaat bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

error: Content is protected !!