Indeks
News  

Pengamat Sebut Elektabilitas Appi Dilirik Partai Lain: Bukan Tanda Pindah

Pengamat Sebut Elektabilitas Appi Dilirik Partai Lain: Bukan Tanda Pindah
Ketua DPD II Golkar Makassar Munafri Arifuddin. (Dok: Ist)

KabarMakassar.com – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Juli 2026 besok, isu mengenai kemungkinan Munafri Arifuddin atau Appi berpindah partai terus mencuat.

Namun, pengamat politik Asratillah menilai spekulasi tersebut merupakan dinamika yang lazim terjadi menjelang maupun setelah kontestasi politik internal.

Menurut Asratillah, tokoh yang memiliki pengaruh besar dan tingkat elektabilitas tinggi memang kerap menjadi objek berbagai spekulasi politik, termasuk isu perpindahan partai. Meski demikian, hal tersebut tidak dapat langsung dimaknai sebagai keputusan politik yang benar-benar akan terjadi.

“Ketika seorang figur memiliki pengaruh yang besar dan tidak mencapai hasil yang diharapkan dalam sebuah kompetisi, ruang publik biasanya dipenuhi berbagai spekulasi mengenai langkah politik berikutnya. Dalam kondisi seperti ini, isu sering kali berkembang lebih cepat daripada fakta yang sesungguhnya,” ujarnya melalui pesan teks, Jumat (17/7).

Ia menilai langkah Appi yang segera membantah isu kepindahannya dari Partai Golkar merupakan sinyal politik yang penting. Klarifikasi tersebut, kata dia, bukan hanya ditujukan kepada masyarakat, tetapi juga kepada elite partai dan para pendukung agar tidak muncul tafsir yang berlebihan.

“Langkah itu menunjukkan bahwa ia memahami pentingnya menjaga stabilitas politik dan menghindari lahirnya tafsir yang semakin liar,” kata Asratillah.

Lebih lanjut, ia mengatakan apabila ada partai lain yang tertarik merekrut Appi, kondisi itu merupakan hal yang wajar. Sebab, seorang politisi yang memiliki pengalaman pemerintahan, jaringan luas, dan elektabilitas yang baik umumnya menjadi perhatian banyak partai politik.

“Tokoh yang memiliki elektabilitas, pengalaman pemerintahan, dan jaringan politik memang sering menjadi perhatian banyak partai. Namun ketertarikan politik tidak otomatis berarti akan terjadi perpindahan partai,” jelasnya.

Asratillah menambahkan, tantangan terbesar Appi saat ini adalah menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi sebagai politisi dan komitmennya sebagai kader Partai Golkar. Menurutnya, sikap yang ditunjukkan pasca-Musda akan menjadi salah satu tolok ukur publik dalam menilai kualitas kepemimpinannya.

“Cara ia mengelola situasi pasca-Musda akan menentukan bagaimana publik dan elite politik memandang kualitas kepemimpinannya. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai ketika menang, tetapi juga dari cara menyikapi situasi ketika hasil politik tidak sesuai harapan,” ujarnya.

Ia menegaskan, masa depan politik Appi sebaiknya tidak dinilai dari isu perpindahan partai yang berkembang. Yang lebih penting adalah melihat konsistensi sikap serta komitmen yang telah disampaikan secara terbuka.

“Sampai hari ini, pernyataan resminya justru menunjukkan komitmen untuk tetap berada di Golkar. Karena itu, analisis yang paling objektif adalah menghormati pernyataan tersebut sambil tetap menyadari bahwa politik selalu membuka ruang bagi berbagai kemungkinan di masa depan,” tukas Asratillah.

error: Content is protected !!
Exit mobile version