kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Pelemahan Rupiah dan Tiket Mahal Ancam Pariwisata Sulsel

Pelemahan Rupiah dan Tiket Mahal Ancam Pariwisata Sulsel
ilustrasi penerbangan (dok. KabarMakassar)

KabarMakassar.com — Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Sulawesi Selatan menilai kenaikan harga tiket pesawat akibat pelemahan rupiah dan fluktuasi dolar mulai berdampak terhadap pergerakan wisatawan ke Sulawesi Selatan. Dampak tersebut dinilai belum signifikan, namun mulai terlihat dari berkurangnya penerbangan dan perubahan pola perjalanan wisatawan.

Ketua ASITA Sulsel Didi L Manaba mengatakan tiket pesawat menjadi faktor utama yang dipertimbangkan wisatawan sebelum melakukan perjalanan. Karena itu, kenaikan harga tiket dinilai sangat memengaruhi keputusan masyarakat untuk bepergian.

“Dolar ini sangat terpengaruh dengan fluktuasi harga tiket pesawat. Jadi, komponen utama yang akan ditanyakan oleh wisatawan pada saat dia akan melakukan perjalanan adalah tiket pesawat,” ujarnya, Kamis (21/05).

Menurutnya, wisatawan yang sudah merencanakan perjalanan jauh hari kemungkinan tetap melakukan perjalanan. Namun, masyarakat yang baru berencana bepergian cenderung memilih menunda karena harga tiket yang meningkat.

“Nah, dampaknya adalah mereka akan berpikir, kecuali orang yang sudah jauh hari merencanakan perjalanan, itu bisa jadi tetap dia lakukan perjalanannya tapi kalau yang baru merencanakan bisa jadi ada penundaan,” katanya.

ASITA Sulsel juga menilai pelemahan rupiah turut memengaruhi kondisi pariwisata nasional dalam lima bulan terakhir. Selain faktor ekonomi global, situasi geopolitik internasional seperti konflik Timur Tengah disebut ikut memengaruhi mobilitas masyarakat, termasuk sektor wisata dan perjalanan ibadah.

“Kalau kita bicara flashback ke yang lalu, memang rentetan daripada dampak daripada banyaknya terjadi hal-hal yang kita tidak inginkan itu, seperti situasi timur tengah, dan lain-lain, memang ini berpengaruh dengan perjalanan,” ujar Didi.

Meski demikian, pelemahan rupiah disebut juga memberi efek lain bagi wisatawan asing karena Indonesia menjadi relatif lebih murah di mata negara tertentu. Salah satunya wisatawan asal Malaysia yang dinilai tetap aktif melakukan perjalanan ke Indonesia seiring menguatnya nilai tukar ringgit.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel yang dirilis pada 4 Mei 2026 menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Selatan pada Maret 2026 mencapai 2.344 kunjungan. Jumlah itu naik 66,24 persen dibanding bulan sebelumnya dan meningkat 80,31 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Wisatawan asal Malaysia masih mendominasi kunjungan ke Sulsel dengan total 1.344 kunjungan. Sementara wisatawan asal Tiongkok tercatat sebanyak 227 kunjungan.

Di sektor perhotelan, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Sulsel tercatat sebesar 39,61 persen. Angka tersebut turun 4,89 poin dibanding Februari 2026, meski masih tumbuh 10,08 poin dibanding Maret tahun lalu.

Sementara itu, TPK hotel nonbintang dan akomodasi lainnya mencapai 18,23 persen atau naik 0,37 poin secara bulanan dan meningkat 4,69 poin secara tahunan. Namun, rata-rata lama menginap tamu hotel bintang tercatat hanya 1,45 malam atau turun dibanding bulan sebelumnya.

Didi mengatakan dampak perlambatan mulai terlihat dari penyesuaian jadwal penerbangan sejumlah maskapai internasional. Kondisi itu dinilai langsung memengaruhi lama tinggal wisatawan di Sulawesi Selatan.

“Contoh Air Asia, yang tadinya dia mau turun 4 hari jadi 3 hari gara-gara adanya pengurangan atau penurunan flight-nya,” ungkapnya.

Menurutnya, pengurangan frekuensi penerbangan menjadi salah satu indikator awal melambatnya pergerakan wisatawan masuk ke Sulsel. ASITA khawatir kondisi tersebut akan terus berlanjut hingga akhir tahun jika harga tiket dan kapasitas penerbangan tidak kembali stabil.

“Khawatirnya kita, ini berdampak sampai akhir tahun. Jadi kalau kita melihat di tahun ini, jadi memang sudah ada. Yang paling berpengaruh sekali lagi adalah maskapai penerbangan atau airlines,” pungkasnya.

Berdasarkan data resmi Bank Indonesia pada 21 Mei 2026, kurs jual dolar AS tercatat sebesar Rp17.773,42, sedangkan kurs beli berada di level Rp17.596,58. Hal mencerminkan tekanan pasar valuta asing yang masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global.

error: Content is protected !!