kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

OPINI: Taman Topekkong; Tempat Bersejarah dan Tumpukan Sampah

Oleh : Aulia Ulil Azmi
(Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIM Sinjai)


KABARBUGIS.ID – Taman merupakan salah satu tempat yang banyak dikunjungi oleh masyarakat. Meski bukan bagian dari tempat wisata seperti pantai atau sabana, namun masih menjadi favorit hingga saat ini,  baik untuk mengobrol bersama teman, atau sekadar duduk santai seorang diri.

Taman Topekkong misalnya, taman yang terletak di tengah kota Sinjai, Sulawesi Selatan. Selain asik dijadikan sebagai tempat ngobrol juga sarat nilai sejarah sehingga hal tersebut menjadi daya tarik bagi orang-orang untuk berkunjung kesana. 

Nama "Topekkong" sendiri diambil dari nama sebuah perjanjian yang disebut dengan "Perjanjian Topekkong" yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama oleh kerajaan Gowa, kerajaan Bone dan federasi Tellu' Limpoe. Perjanjian tersebut terdiri dari tiga poin yang ditulis dalam bahasa Bugis, kemudian ditulis ulang dan diabadikan dalam sebuah monumen yang saat ini menjadi icon taman tersebut.

Meski bernilai sejarah, kondisinya saat ini terkesan tak terurus. Sampah plastik berserakan di mana-mana, rerumputan liar tumbuh lebat, dan tumpukan sampah yang menggunung di area sekitar taman. Selain itu, kolam yang berada di kaki bukit pun tak terurus sama sekali. Airnya keruh, tiap sisi dan dasar kolam berlumut dan dipenuhi dedaunan kering.

Jika sudah seperti ini, siapa yang harus bertanggung jawab?

Sejatinya, menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan, karena yang akan menikmatinya adalah kita juga. 

Bahkan bisa dibilang, penyebab utama lingkungan kotor adalah kita sendiri. Dimana ada manusia, disitu ada sampah. Semakin banyak manusia, maka akan semakin banyak pula sampah. 

Dari sejak dulu sampai sekarang yang menjadi permasalah dari sebuah tempat yang bersifat publik adalah mengenai kebersihannya, meskipun sudah disiapkan tempat sampah, tapi masih buang sampah sembarangan. Ketika lingkungan kotor, malah menyalahkan petugas kebersihan. Begitulah kita.

Akan tetapi, dalam beberapa hal peran para petugas kebersihan juga sangat dibutuhkan. Misalnya dalam menjaga kebersihan kolam dan rumput yang berada di area sekitar taman Topekkong. 

Karena dalam hal ini persoalan sampah sudah terlanjur lama berlarut-larut, tentu tidak bisa diatasi oleh satu atau dua orang saja. Pemerintah setempat harus turun tangan. 

Mungkinkah pemerintah kesulitan mengatasi persoalan sampah? tapi seharusnya jika memang pemerintah ada niat untuk menghilangkan sampah, segala cara pasti akan diupayakan. 

Misalnya dengan mengangkut tumpukan sampah tersebut secara bertahap menggunakan truk, kemudian dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Tondong di Kecamatan Sinjai Timur.

Paling tidak, hal tersebut sedikit banyaknya bisa membantu mengurangi populasi sampah yang setiap harinya kian meningkat. Setelah itu, bisa dilakukan penanaman pohon di area yang sama, agar lingkungan kembali asri dan tidak tercemar.Pengunjung taman pun bisa lebih nyaman dan tidak  merasa terganggu dengan bau tidak sedap.

Sementara itu, TPA Tondong sebenarnya saat ini sudah over kapasitas. Sejak tahun 2019, pemerintah sudah berencana untuk membuat lokasi TPA baru yang lebih bagus dan representatif. Namun saat ini pemerintah baru menyiapkan Tempat Pembuangan Sementara Reuse, Reduce dan Recycle (TPS3R). TPS3R diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengolah sampah plastik menjadi barang yang bernilai ekonomis.

Terlepas dari itu, Taman Topekkong harus benar-benar mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Sayang sekali bila taman seindah itu dibiarkan begitu saja dan tidak dirawat sama sekali.

Oleh karenanya, kita bisa mulai menjaga lingkungan dari hal yang paling sederhana. Misalnya membiasakan diri untuk membuang sampah pada tempatnya, memisahkan antara sampah organik dan non-organik, serta mendaur ulang sampah plastik di sekitar kita. 

Jika tidak mampu membantu membersihkan, setidaknya kita mampu menjaga kebersihan. Karena kebersihan berasal dari kita, oleh kita, dan untuk kita.

error: Content is protected !!