KabarMakassar.com — Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat, menyatakan dukungan terhadap rencana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto.
Menurutnya, penilaian terhadap sosok Soeharto sebaiknya dilakukan secara arif dengan mempertimbangkan jejak sejarah dan kontribusinya terhadap pembangunan bangsa.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang arif menghargai pengabdian dan kontribusi tokoh terhadap negara. Setiap era memiliki tantangan dan keputusan besar yang diambil demi keberlangsungan bangsa,” ujar Viktor, Senin (27/10).
Viktor menilai, masa kepemimpinan Soeharto meninggalkan warisan penting bagi kemajuan Indonesia, khususnya dalam pembangunan ekonomi, infrastruktur, dan pendidikan. Menurutnya, banyak kebijakan pada masa Orde Baru yang menjadi fondasi bagi stabilitas dan pertumbuhan nasional di masa berikutnya.
“Dalam konteks itu, kita perlu menilai secara objektif peran Presiden Soeharto dalam membangun fondasi ekonomi dan menjaga stabilitas nasional,” tambahnya.
Meski demikian, Viktor menegaskan bahwa pengakuan terhadap jasa Soeharto bukan berarti menutup mata terhadap catatan kritis dalam perjalanan sejarah. Ia menyebut, setiap pemimpin memiliki kelebihan dan kekurangan yang harus dijadikan pelajaran bersama.
“Tidak ada pemimpin yang sempurna. Setiap masa memiliki tantangan tersendiri. Yang penting adalah bagaimana kita mengambil pelajaran dari masa lalu untuk memperkuat nilai demokrasi, keadilan, dan kemanusiaan hari ini,” jelasnya.
Lebih lanjut, Viktor mengatakan Fraksi Partai NasDem mendukung langkah pemerintah dan Dewan Gelar, Tanda Jasa, serta Tanda Kehormatan dalam mengkaji pemberian gelar tersebut secara mendalam. Ia menekankan pentingnya pendekatan komprehensif yang mencakup aspek moral, historis, dan kontribusi nyata terhadap bangsa.
“Penetapan gelar pahlawan nasional tidak boleh dilihat dari kacamata politik semata. Ini harus melalui kajian yang objektif, menghormati fakta sejarah, serta mempertimbangkan nilai-nilai pengabdian,” kata Viktor.
Ia berharap, proses ini dapat menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk memperkuat semangat rekonsiliasi sejarah dan membangun pandangan kebangsaan yang inklusif. Menurutnya, menghormati jasa tokoh masa lalu tidak berarti mengulang masa lampau, melainkan menumbuhkan kedewasaan dalam memahami perjalanan bangsa.
“Kita perlu memandang masa lalu sebagai cermin. Dari sana, kita bisa melangkah dengan lebih bijak dan dewasa untuk membangun masa depan,” pungkas Viktor.














