KabarMakassar.com — Tingkat literasi kesehatan mental yang masih rendah membuat banyak orang di Indonesia tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kelelahan emosional.
Kondisi ini, menurut praktisi kesehatan mental Rimalia Karim, kini menjadi masalah terbesar dalam dunia kesehatan jiwa masyarakat modern.
Rimalia menuturkan, dari pengalamannya menangani klien, sebagian besar tidak menyadari tanda-tanda kelelahan emosional yang mereka alami.
“Masalah terbesar saat ini adalah kelelahan emosional yang mungkin tidak kita sadari. Banyak yang belum memiliki kemampuan cukup dalam mengelola emosi,” ungkapnya dalam keterangan, Minggu (12/10).
Ia menjelaskan, kelelahan emosional muncul ketika seseorang menekan perasaan dan terus memaksa diri untuk tetap kuat dalam tekanan hidup. Pola hidup seperti ini, kata dia, membuat banyak orang hidup dalam ‘mode otak reptil’ sebuah kondisi di mana otak berfungsi hanya untuk bertahan, bukan untuk menikmati hidup.
“Banyak orang sekarang tidak memberi ruang bagi diri mereka untuk beristirahat secara batin. Akibatnya, emosi-emosi yang tertahan menumpuk dan menjadi ‘sampah emosional’ yang menggerogoti energi,” ujarnya.
Dampaknya, seseorang menjadi mudah marah, cepat lelah, kehilangan semangat, sulit tidur, bahkan merasa hampa tanpa sebab yang jelas. “Ini bukan karena mereka lemah, tapi karena tubuh dan pikiran terlalu lama menahan beban tanpa penyaluran yang sehat,” tambahnya.
Hasil survei Dandiah Care Center menunjukkan bahwa 90 persen remaja Indonesia tidak mampu mengelola emosi dengan baik. Kondisi ini menunjukkan betapa rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keseimbangan emosi di tengah tekanan kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif.
Rimalia menilai, literasi kesehatan mental yang lemah menjadi akar persoalan utama. Masih banyak orang menganggap bahwa mengaku tidak baik-baik saja adalah tanda kelemahan atau kurangnya keimanan. Padahal, kata dia, justru sebaliknya.
“Meminta bantuan profesional adalah bentuk kesadaran diri dan tanggung jawab terhadap kesehatan mental. Itu langkah berani yang seharusnya diapresiasi, bukan disalahartikan,” tegasnya.
Ia pun mengimbau agar masyarakat mulai memberi ruang bagi diri sendiri, belajar mengenali batas, dan tidak ragu mencari pertolongan ketika merasa tidak mampu menghadapi tekanan.
“Kita semua butuh waktu untuk berhenti sejenak, untuk membersihkan sampah emosional yang selama ini kita abaikan,” tutup Rimalia.














