KabarMakassar.com — Kasus peredaran beras oplosan kembali menjadi sorotan publik setelah 212 perusahaan teridentifikasi terlibat dalam praktik curang yang merugikan konsumen hingga Rp3,2 triliun.
Jumlah kerugian tersebut diperkirakan setara dengan 700.000 ton beras, atau hampir 25 persen dari total kebutuhan beras nasional bulanan yang mencapai 2,6 juta ton.
Beras oplosan biasanya dijual dengan label premium namun tidak sesuai kualitas, bahkan berpotensi membahayakan kesehatan. Untuk itu, masyarakat diimbau semakin waspada dan mengenali perbedaan antara beras asli dan beras oplosan yang kini banyak beredar di pasaran.
Menurut Pakar Teknologi Industri Pertanian dari IPB University, Prof. Tajuddin Bantacut, ciri-ciri beras oplosan bisa dikenali secara kasat mata maupun melalui hasil masakan.
“Jika menemukan nasi yang berbeda dari biasanya seperti warna, bau, tekstur dan butiran, maka dapat dicurigai sebagai beras oplosan yang mengalami kerusakan mutu atau tercampur benda asing,” jelasnya.
Ini Cara Membedakan Beras Asli dan Beras Oplosan:
1. Warna Tidak Seragam
Beras asli umumnya berwarna putih gading atau sedikit transparan. Bila warna terlalu putih mencolok, kusam keabu-abuan, atau campur aduk, besar kemungkinan itu hasil pemolesan ulang atau campuran zat lain.
2. Aroma Tidak Wajar
Beras asli memiliki aroma segar khas padi atau tanah. Bau kimia, menyengat, atau tidak lazim patut dicurigai sebagai tanda beras yang dicampur bahan kimia berbahaya.
3. Butiran Berbeda dan Ada Benda Asing
Campuran beras palsu sering tampak dari ukuran butir yang tidak sama. Saat dicuci, kadang ditemukan serpihan plastik, serat halus, atau partikel asing lain.
4. Tekstur Nasi Setelah Dimasak
Nasi dari beras asli biasanya pulen dan padat. Beras oplosan cenderung menghasilkan nasi lembek, mudah hancur, dan tidak menggugah selera.
5. Hindari Beras Curah Tanpa Label
Waspadai beras yang dijual tanpa label resmi atau tidak jelas asal-usulnya. Produk yang tidak melalui jalur distribusi resmi berisiko tinggi mengandung bahan tambahan yang tidak aman.
Pemerintah diminta untuk bertindak tegas terhadap perusahaan-perusahaan nakal yang mempermainkan kebutuhan pokok rakyat. Di sisi lain, konsumen juga diimbau lebih teliti dalam memilih beras demi menjaga kesehatan dan menghindari penipuan.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan pengawasan ketat dari pemerintah, diharapkan praktik peredaran beras oplosan bisa segera dihentikan.













