KabarMakassar.com – Peta politik nasional kembali bergeser setelah Presiden RI Prabowo Subianto merombak Kabinet Merah Putih, Senin (08/09).
Dari lima menteri yang dicopot, salah satunya adalah Abdul Kadir Karding, putra Sulawesi Selatan yang menjabat Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI).
Karding, yang juga dikenal sebagai Sekjen Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), hanya 11 bulan menduduki kursi menteri.
Ia resmi dilantik pada 21 Oktober 2024 dan berakhir pada 8 September 2025. Posisinya kini digantikan oleh politikus Partai Golkar, Mukhtarudin.
Selain Karding, reshuffle kali ini menyasar tokoh besar lain, Menko Polhukam Budi Gunawan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi, dan Menpora Dito Ariotedjo.
Sebelum pencopotannya, nama Karding sempat viral lantaran beredar foto dirinya bermain domino bersama Aziz Wellang, tersangka kasus pembalakan liar. Foto yang diambil pada 1 September itu langsung memicu sorotan publik.
Karding kemudian memberi klarifikasi. Menurutnya, kejadian tersebut berlangsung dalam suasana silaturahmi pengurus KKSS, bukan dalam konteks lain.
“Itu hanyalah momen kebersamaan dalam kegiatan internal KKSS,” ujarnya.
Meski begitu, isu tersebut terlanjur menambah daftar panjang polemik yang membayangi kiprahnya sebagai menteri.
Pada awal pemerintahan, Prabowo menunjuk delapan putra terbaik Sulsel masuk dalam Kabinet Merah Putih. Dengan keluarnya Karding, kini tinggal tujuh tokoh yang masih bertahan, di antaranya, Sjafrie Sjamsoeddin, Menko Polhukam sekaligus merangkap Menteri Pertahanan, Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.
Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI, Meutya Viada Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia, Supratman Andi Agtas Menteri Hukum, Dzulfikar Ahmad Tawalla Wakil Menteri Pekerja Migran Indonesia dan Muhammad Anis Matta Wakil Menteri Luar Negeri.
Kehadiran mereka menegaskan dominasi figur Sulsel di lingkaran kabinet, sebuah tradisi panjang yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh politisi asal Makassar dan sekitarnya dalam dinamika nasional.
Pencopotan Karding menyisakan tanda tanya soal masa depan politiknya. Sebagai Sekjen KKSS, ia tetap memiliki basis sosial dan jaringan yang luas, baik di rantau maupun di tanah kelahiran. Namun, sorotan publik atas kontroversi belakangan bisa menjadi beban bagi langkah politiknya ke depan.
