KabarMakassar.com — Menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan didukung Program Kemitraan Australia-Indonesia untuk ketahanan kesehatan (AISHP) melakukan sosialisasi dan lokakarya di Hotel Aryaduta Makassar, Selasa (29/3).
Kegiatan tersebut sebagai upaya pencegahan dan mitigasi Covid-19 bagi kelompok rentan termasuk penyandang disabilitas melalui kampanye komunikasi risiko.
Sekretaris Dinas Kesehatan Sulsel, Bachtiar Baso menyebut pihaknya secara terus menerus melakukan peningkatan cakupan vaksinasi khususnya terhadap kelompok rentan melalui berbagai cara yang inovatif salah satunya dengan pemahaman komunikasi risiko yang penting untuk didorong sehingga masyarakat dapat paham terkait kegunaan vaksinasi.
Pihaknya juga mengungkap total cakupan vaksinasi dosis kedua di Sulsel baru mencapai 61,37 persen dan vaksin booster 3.63 persen.
"Upaya pemerintah provinsi Sulawesi Selatan dalam meningkatkan cakupan vaksinasi terhadap kelompok rentan terus-menerus dilakukan di berbagai toko paten melalui berbagai cara yang inovatif namun demikian bukan hanya manajemen teknis yang dibutuhkan akan tetapi pemahaman komunikasi risiko juga sangat penting untuk didorong," pungkasnya.
Kepala Bappelitbangda Sulsel, Andi Darmawan Bintang menyebut masih banyak masyarakat yang terjebak dalam hoax bahwa vaksinasi dapat melemahkan daya intelektualitas dan mengancam kesehatan reproduksi serta memperpendek usia hidup sehingga masih banyak kaum difabel atau masyarakat yang tidak mendapatkan vaksinasi atau enggan melakukan vaksinasi sehingga perlu adanya strategi komunikasi atau pendekatan yang sesuai dengan latar belakang masyarakat untuk memperbaiki disinformasi.
"Covid-19 merupakan pandemi yang merebak ke seluruh dunia dimana tantangan geografis dan lingkungan hidup serta corak sosial budaya masyarakat menyebabkan penanganan yang berbeda-beda di tiap wilayah masih banyak anggota masyarakat yang terjebak dalam hoax dan miskonsepsi," ungkapnya.
Sementara, Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Sosial Angkie Yudistia menyebut menyebut perlu upaya untuk menyediakan lebih banyak informasi ramah disabilitas yang berwawasan komunikasi risiko secara tepat dan meningkatkan literasi diantara mereka sebab kendala yang sering ditemui adalah masih rendahnya pemahaman tentang Covid-19 karena kurangnya kurang tersedianya informasi khas yang dibutuhkan oleh kelompok penyandang disabilitas serta banyaknya disinformasi yang beredar sehingga memunculkan keraguan dan kebingungan untuk melakukan vaksinasi
"Penyandang disabilitas merupakan kelompok rentan karena memiliki komoditas penyakit bawaan lain sehingga informasi yang menjelaskan manfaat dan resiko vaksin bagi kondisi khusus yang dapat diakses oleh teman-teman tuli dan disabilitas netra masih harus ditingkatkan," ungkapnya
Selain itu John Leigh, Team Leader AISHP sangat mendukung program kegiatan tersebut karena peningkatan akses vaksin bagi kelompok rentan merupakan salah satu perhatian utama.
Adapun keluaran yang diharapkan dari kegiatan tersebut yakni tersusunnya dan diimplementasikannya strategi komunikasi risiko yang ideal dan kompetitif di tiap-tiap kabupaten dan tercapainya kesepakatan kerjasama secara kolektif lintas pihak untuk menyelenggarakan program vaksinasi massal bagi penyandang disabilitas di seluruh Sulsel dalam waktu dekat.