KabaraMakassar.com — Kapolrestabes Makassar Kombes Pol. Arya Perdana meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi isu kerusuhan yang kembali beredar menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Arya mengatakan, isu yang mengaitkan situasi Makassar saat ini dengan kerusuhan yang terjadi pada 25–29 Agustus tahun 2025 lalu kembali disebarkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Diketahui, Gedung DPRD Kota Makassar dan DPRD Sulawesi Selatan di Jalan A.P. Pettarani dibakar massa saat aksi unjuk rasa berujung ricuh pada Jumat malam, 29 Agustus 2025. Peristiwa tersebut menyebabkan tiga orang meninggal dunia karena terjebak api dan puluhan kendaraan hangus terbakar.
Menurutnya, narasi tersebut berpotensi memicu keresahan jika masyarakat tidak menyikapinya secara bijak.
“Menjelang HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, ada isu-isu yang disebarkan, terutama tentang isu tahun lalu. Tahun lalu kita ada kerusuhan yang cukup besar tanggal 25 sampai 29 Agustus, dan itu dikeluarkan kembali oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Arya dalam Rakor keamanan jelang HUT RI di Kota Makassar, Kamis (13/08).
Ia menegaskan kondisi Makassar saat ini relatif kondusif dan berbeda dengan situasi kerusuhan tahun sebelumnya.
Menurut Arya, masyarakat perlu berhati-hati terhadap informasi yang beredar melalui media sosial, terutama konten yang sengaja membangun ketegangan dan mendorong masyarakat melakukan tindakan anarkis.
“Jangan sampai orang-orang yang berusaha membuat situasi ini menjadi chaos dengan isu-isu melalui media sosial yang tidak bertanggung jawab menyulut kemarahan masyarakat untuk melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi unjuk rasa di Makassar dalam beberapa bulan terakhir juga menunjukkan perkembangan positif. Aksi demonstrasi masih terjadi, namun sebagian besar membawa isu lokal dan berlangsung tanpa aksi pembakaran maupun penjarahan.
“Alhamdulillah saya lihat di Makassar ini semakin hari semakin kondusif, adem. Ada unjuk rasa mungkin satu hari 20 titik, 15 titik, tapi tidak ada isu nasional. Isunya rata-rata lokal,” jelasnya.
Arya mengungkapkan, dari sekitar 80 rencana aksi yang terdata dalam satu pekan, hanya sebagian yang benar-benar terlaksana. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya komunikasi antara kelompok masyarakat yang akan melakukan aksi dengan pihak terkait.
“Kalau saya hitung misalnya dalam satu minggu itu ada 80 rencana aksi, yang terlaksana mungkin cuma 14, mungkin cuma lima, dalam seminggu cuma 10 yang terlaksana,” katanya.
Untuk menjaga situasi menjelang 17 Agustus, kepolisian juga memperkuat koordinasi dengan jajaran kepolisian di daerah sekitar Makassar. Langkah itu terutama dilakukan untuk mengantisipasi pergerakan kelompok bermotor yang berpotensi mengganggu keamanan pada malam hari.
Arya mengatakan koordinasi telah dilakukan dengan Kapolres Gowa, Takalar, dan Maros. Menurutnya, kelompok bermotor yang beraktivitas di Makassar tidak seluruhnya berasal dari wilayah kota.
“Yang melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan di malam hari ini bukan hanya dari Kota Makassar, tetapi banyak motor yang masuk dari kota-kota lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, patroli gabungan melalui tim Trisula yang melibatkan unsur Reserse, Intel, dan Samapta terus dilakukan untuk menekan aktivitas geng motor dan penggunaan panah busur.
“Rata-rata yang motor dan panah busur ini kalau Bapak Ibu lihat dalam beberapa bulan terakhir juga turun, karena hampir setiap hari dari patroli yang jalan, ada patroli namanya Trisula,” katanya.
Arya menyebut personel kepolisian hampir setiap hari mengamankan sejumlah orang yang diduga terlibat aktivitas geng motor maupun penggunaan panah busur.
“Tapi tentu tidak seluruhnya dapat diproses secara pidana karena faktor usia maupun tidak ditemukannya unsur tindak pidana,” tukasnya.
