kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Inilah Kronologi Sang Dukun Dijeneponto Yang Nyaris Tewas Diamuk Massa

KabarSelatan.id — Kasat Reskrim Polres Jeneponto Iptu Nasaruddin menceritakan buntut dari insiden penyerangan oleh  massa kepada seorang dukun di BTN Romanga, Kelurahan Balang, Binamu, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Senin (16/5).

Dijelaskannya, pada hari Sabtu tanggal 14 Mei 2022 sekitar jam 19. 34 wita, Ente Daeng Cora yang membuka praktek dukun didatangi pasien bernama Samani (58) warga Karampangpa'ja Desa Borongtala, Tamalatea, Jeneponto.

"Saat itu Samani yang belum sempat masuk kerumah sang dukun tiba-tiba muntah darah hingga meninggal dunia,"tuturnya.

Tak sampai disitu, istri Almarhum Samani ikut meninggal dunia pada hari Senin (16/5) sekitar pukul 06.00 Wita.

"Daeng Bulaeng (58) meninggal dunia di Puskesmas Pattontongan yang sebelumnya sempat dirawat karena mengeluh sakit perut yang diduga ulah sang dukun,"sambung Nasaruddin.

Sehingga pihak keluarga dari Almarhum menganggap jika keduanya meninggal dunia disebabkan oleh ulah sang dukun. 

"Dengan spontan massa mendatangi rumah dukun dan melakukan aksi pengrusakan dan penganiayaan," terangnya.

Akibat insiden itu, sang dukun dan anaknya nyaris tewas.

"Entet daeng cora (45) Menderita luka pada pergelangan tangan kiri dan luka pada ibu jari dan telunjuk sebelah kanan sedangkan anaknya Muh Idil (20) luka pada bagian kepala,"tukasnya.

Hingga kini, polisi belum menetapkan satu orang pun tersangka dari kasus penganiayaan dan pengrusakan tersebut lantaran masih dalam proses  penyelidikan.

Sementara Ente yang menjadi korban yang selamat dari amukan massa itu mengaku tak mengetahui penyebab sehingga nyawanya ingin dihabisi.

Namun setelah kejadian ini, ia baru menyadari jika massa yang datang itu adalah keluarga dari pasien yang belum sempat diobati dan meninggal dunia.

"Kejadiannya 2 hari yang lalu, ada 6 orang yang datang dirumah namun pas diteras langsung muntah darah dan pasien sudah meninggal dunia. Saya juga belum sempat obati pasien,"tutur Ente kepada kabarselatan.id

Bahkan saat itu saya merasa kasihan, sehingga saya membantu dengan memberikan sarung untuk dipakaikan ke jenazah korban 

"Saya juga tidak tega melihat pasien yang meninggal didepan rumah belumpi saya apa-apai meninggalmi jadi saya hanya membantu itu saja,"sambungnya.

Setelah itu, keluarga dari pasien malah berterimah kasih kepada saya lantaran berusaha untuk mengobati namun nasib berkata lain.

"Tidak adaji keluarganya yang marah bahkan berterimah kasihji,"ucap Ente.

Ditanya soal dugaan air minum yang diberikan kepada istri pasien sehingga  meninggal dunia, Ente membantah hal itu.

"Mana buktinya karena biar air saya tidak bikinkan dan Istrinya sendiri yang ambil air. Yang jelas saat itu tidak ada pengobatan,"akunya.

Makanya saya kaget didatangi oleh massa karena dituduh telah menjadikan pasien sebagai tumbal.

"Mana buktinya kalau saya jadikan tumbal. Justru saya merasa benar sehingga tidak kabur dari rumah,"cetus Ente.

Ente mengaku jika profesi yang dijalaninya masih terbilang baru.

"Baru sekitar 5 bulan saya mengobati orang dan kejadian ini baru terjadi. Jadi kagetka juga,"tutupnya.

error: Content is protected !!