KabarMakassar.com — Sulawesi Selatan mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 3,56 persen pada Juni 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibanding inflasi Juni 2025 yang sebesar 2,24 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulsel tercatat 112,06 pada Juni 2026. Sementara inflasi bulanan (month to month/m-to-m) mencapai 0,36 persen dan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar 2,54 persen.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan menunjukkan inflasi terjadi akibat kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Dari 11 kelompok pengeluaran, hanya kelompok pakaian dan alas kaki yang mengalami deflasi.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga masih cukup kuat sepanjang Juni 2026. Kenaikan harga terutama dipicu oleh kelompok pangan serta sejumlah komoditas strategis.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan kenaikan 5,69 persen. Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 1,77 persen, tertinggi dibanding kelompok pengeluaran lainnya.
Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi secara persentase yakni 10,48 persen dengan andil 0,85 persen. Di sisi lain, kelompok pakaian dan alas kaki mengalami deflasi 0,42 persen.
Sejumlah komoditas menjadi pendorong utama inflasi tahunan di Sulawesi Selatan. Emas perhiasan memberikan andil terbesar sebesar 0,77 persen. Selanjutnya diikuti ikan layang atau ikan benggol 0,14 persen, tomat 0,13 persen, cabai rawit 0,13 persen, daging ayam ras 0,12 persen, bensin 0,12 persen, sigaret kretek mesin 0,12 persen, nasi dengan lauk 0,11 persen, minyak goreng 0,11 persen, beras 0,11 persen, dan bawang merah 0,09 persen.
Untuk inflasi bulanan, kenaikan harga terutama didorong oleh bensin yang memberikan andil 0,11 persen. Komoditas lain yang turut mendorong inflasi Juni ialah ikan layang 0,05 persen, cabai merah 0,05 persen, bawang merah 0,04 persen, telepon seluler 0,03 persen, angkutan udara 0,03 persen, minyak goreng 0,03 persen, pelumas 0,02 persen, beras 0,02 persen, dan tarif air minum PAM 0,02 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga tidak hanya berasal dari pangan, tetapi juga sektor transportasi dan komunikasi.
Secara wilayah, seluruh delapan kabupaten dan kota cakupan Indeks Harga Konsumen di Sulawesi Selatan mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Luwu Timur mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,32 persen dengan IHK 113,76. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Sidenreng Rappang 4,30 persen, Kabupaten Wajo 3,80 persen, dan Watampone 3,76 persen. Sementara Kota Makassar mencatat inflasi yang sama dengan tingkat provinsi, yakni 3,56 persen.
Inflasi tahunan terendah terjadi di Bulukumba dan Kota Parepare, masing-masing sebesar 2,57 persen. Kota Palopo mencatat inflasi 2,74 persen.
“Meski seluruh daerah mengalami kenaikan harga, terdapat variasi tingkat inflasi antarwilayah yang mencerminkan perbedaan dinamika harga komoditas di masing-masing daerah,” ungkap Kepala BPS Sulsel, Aryanto dalam Berita Resmi Statistik, Jumat (3/7)
Dibandingkan dua tahun sebelumnya, laju inflasi Sulawesi Selatan pada Juni 2026 menunjukkan tren meningkat. Inflasi tahunan tercatat 2,03 persen pada Juni 2024, naik menjadi 2,24 persen pada Juni 2025, lalu kembali meningkat menjadi 3,56 persen pada Juni 2026.
“Inflasi tahun kalender juga naik dari 0,83 persen pada 2024 menjadi 1,84 persen pada 2025 dan 2,54 persen pada 2026. Adapun inflasi bulanan berubah dari deflasi 0,26 persen pada Juni 2024 dan deflasi 0,06 persen pada Juni 2025 menjadi inflasi 0,36 persen pada Juni 2026,” jelasnya.
Selain kelompok pangan, tekanan harga juga berasal dari sektor transportasi yang mengalami inflasi tahunan 2,57 persen. Kelompok ini memberikan andil 0,32 persen terhadap inflasi umum.
Kenaikan terutama dipicu oleh harga bensin, pelumas, angkutan udara, sepeda motor, dan tarif kendaraan roda dua berbasis aplikasi. Kondisi tersebut memperlihatkan biaya mobilitas masyarakat turut mengalami kenaikan sepanjang tahun berjalan.
Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi 3,10 persen dengan andil 0,24 persen. Komoditas yang dominan mendorong kenaikan pada kelompok ini adalah nasi dengan lauk, bakso siap santap, ayam goreng, kopi siap saji, dan martabak.
Bersamaan dengan masih tingginya inflasi pada kelompok pangan, perkembangan tersebut menunjukkan konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu faktor utama pembentuk inflasi Sulawesi Selatan pada Juni 2026.
