KabarMakassar.com — Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Makassar mulai menggenjot pengembangan tenun lokal melalui kolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia (CTI).
Langkah ini tidak hanya diarahkan untuk membangkitkan kembali jumlah perajin tenun di Kota Makassar, tetapi juga menargetkan produk tenun daerah mampu menembus panggung fesyen nasional, termasuk Jakarta Fashion Week.
Program tersebut diperkenalkan dalam rangkaian Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 melalui fashion show yang digelar di kawasan MNEK, Makassar, Rabu (24/06) besok.
Wakil Ketua Harian II Dekranasda Kota Makassar, Rosnani, mengatakan pengembangan sektor tenun menjadi salah satu perhatian Ketua Dekranasda Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri.
Menurutnya, keberadaan perajin tenun di Makassar saat ini masih sangat terbatas sehingga diperlukan program khusus untuk mendorong regenerasi dan penguatan kapasitas pelaku usaha.
“Melalui kerja sama dengan Cita Tenun Indonesia, kami ingin membuka ruang yang lebih besar bagi para perajin tenun agar kembali bergeliat. Harapannya mereka bisa berkembang dan melihat bahwa tenun memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan,” kata Rosnani dalam prescon persiapan fashion show, Selasa (23/06).
Ia menjelaskan, selama ini tenun kerap dianggap kurang menarik secara ekonomi sehingga minat masyarakat untuk menekuni profesi tersebut terus menurun. Karena itu, Dekranasda berupaya mengubah pandangan tersebut melalui program pembinaan yang terintegrasi dengan dunia industri kreatif dan fesyen.
“Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan kesempatan baru bagi para perajin untuk berekspresi sekaligus meningkatkan daya saing produknya,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Harian Dekranasda Makassar, Dewi, mengungkapkan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah minimnya jumlah penenun lokal.
Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan Dekranasda, hanya sebagian kecil peserta yang benar-benar memiliki keterampilan menenun.
“Kami membuka registrasi terbuka dan mendapatkan sekitar 20 peserta. Namun yang benar-benar berprofesi sebagai pengrajin tenun hanya sekitar tujuh orang. Selebihnya masih sebatas memiliki minat dan ingin belajar,” ungkap Dewi.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan utama Dekranasda menggandeng CTI untuk menghadirkan program pembinaan jangka panjang.
Dewi berharap dalam beberapa tahun ke depan tenun Makassar dapat berkembang seperti sentra-sentra tenun yang lebih dahulu dikenal di Sulawesi Selatan maupun wilayah lain di Indonesia.
“Harapan besar kami adalah para pengrajin bisa naik kelas. Produk tenun Makassar bisa dikenal secara nasional bahkan mampu masuk ke ajang-ajang besar seperti Jakarta Fashion Week,” katanya.
Ia menilai kerja sama tersebut menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem tenun yang lebih kuat, mulai dari peningkatan keterampilan, penguatan desain, hingga akses pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, Project Officer Cita Tenun Indonesia (CTI), Syamsidar Isa, mengatakan organisasi yang dipimpinnya selama ini fokus menghubungkan para perajin dengan industri fesyen agar produk tenun tidak hanya digunakan untuk kebutuhan adat dan tradisi, tetapi juga memiliki nilai komersial yang lebih tinggi.
“Visi kami adalah mengangkat karya para perajin tenun di daerah. Kami memberikan pendampingan terkait kualitas produk, desain, dan kebutuhan pasar saat ini sehingga tenun bisa diterima lebih luas,” jelas Syamsidar.
Menurutnya, selama lebih dari 15 tahun CTI menjalankan program pembinaan yang melibatkan desainer tekstil dan perancang busana. Kehadiran para desainer dinilai mampu mempercepat promosi tenun kepada konsumen karena produk langsung ditampilkan dalam bentuk busana yang siap pakai.
“Melalui tangan para desainer, masyarakat bisa melihat bagaimana kain tenun diaplikasikan menjadi produk fesyen maupun interior. Itu membuka pasar yang jauh lebih besar bagi para perajin,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Syamsidar juga menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat terhadap wastra Nusantara. Ia mengingatkan bahwa tenun dan batik merupakan dua teknik berbeda sehingga tidak tepat disatukan dalam istilah batik tenun.
“Kalau bicara wastra Indonesia, kita harus bicara teknik. Tenun berbeda dengan batik. Jadi istilah batik tenun itu tidak ada. Pemahaman seperti ini penting untuk terus disosialisasikan,” tegasnya.
Ia menambahkan Sulawesi Selatan memiliki kekayaan teknik tenun khas yang menjadi identitas masyarakat Bugis dan perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.
“Dekranasda memiliki peran penting untuk memperkuat literasi masyarakat mengenai tenun dan kekayaan wastra daerah. Dengan begitu, identitas budaya ini bisa tetap terjaga sekaligus berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru,” tukasnya.
