KabarMakassar.com — Perubahan gaya hidup di kota-kota besar mendorong Generasi Z (Gen Z) mulai mengubah cara pandang terhadap hunian. Jika sebelumnya kepemilikan rumah dianggap sebagai tujuan utama, kini sebagian generasi muda lebih menekankan pada fleksibilitas ruang tinggal yang mampu menyesuaikan kebutuhan hidup mereka.
Kondisi ini tidak lepas dari meningkatnya harga tanah di kawasan perkotaan yang kerap tidak sebanding dengan tingkat pendapatan generasi muda. Situasi tersebut membuat banyak Gen Z lebih realistis dalam menentukan pilihan tempat tinggal, dengan mempertimbangkan efisiensi ruang dan biaya.
Salah seorang Arsitek muda di Makassar, Andi Muh Fatahillah (28), menilai perubahan tersebut merupakan respons yang wajar terhadap dinamika kehidupan di kota besar saat ini. Menurutnya, generasi muda tidak lagi terpaku pada kepemilikan rumah, melainkan lebih fokus pada ketersediaan tempat tinggal yang layak.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam penyediaan hunian bagi Gen Z adalah persoalan keterjangkauan harga. Dengan lahan yang semakin terbatas dan nilai tanah yang terus meningkat, ukuran rumah yang lebih kecil menjadi pilihan yang semakin realistis di kawasan perkotaan.
Meski demikian, harga bukan satu-satunya faktor yang dipertimbangkan. Lingkungan tempat tinggal juga dinilai memiliki pengaruh besar terhadap kenyamanan dan kualitas hidup penghuninya.
“Kalau kita tinggal di perumahan, itu sudah kita filter pasti, terkurasi dengan baik bagaimana lingkungan kita, tetangga-tetangga kita bagaimana, itu pasti jadi faktor,” kata Fatahillah, Minggu (15/03/2026).
Menurutnya, hunian bagi Gen Z tidak hanya berfungsi sebagai tempat berteduh, tetapi juga menjadi ruang privat yang menunjang aktivitas sehari-hari. Karena itu, aspek estetika, kenyamanan, dan rasa aman turut menjadi pertimbangan penting dalam memilih tempat tinggal.
Dalam kondisi keterbatasan lahan, Fatahillah menilai peran arsitek menjadi sangat penting untuk merancang hunian yang efisien namun tetap fungsional. Perencanaan ruang yang tepat memungkinkan lahan kecil tetap mampu menampung berbagai kebutuhan penghuni.
“Kan orang bilang, kecil sekali lahan, ada limitasi lahan di situ. Cuma kan tidak ditahu juga ada limitasi budget. Itu tugasnya seorang konsultan bagaimana memanfaatkan lahan dan bagaimana memaksimalkan anggaran,” katanya.
Konsep hunian yang fleksibel pun mulai banyak diterapkan dalam desain rumah di perkotaan. Model seperti rumah tumbuh, ruang multifungsi, hingga compact house dinilai mampu menjawab kebutuhan generasi muda yang dinamis.
Namun, ia menilai konsep tersebut menuntut perubahan pola hidup dari penghuninya. Rumah dengan ukuran kecil dan fungsi ruang yang terbatas mengharuskan penghuni untuk menjalani gaya hidup yang lebih sederhana.
“Minimalis itu kan artinya hidup kita juga harus minimalis. Bukan cuma konsep rumahnya yang minimalis, pasti pengguna juga harus minimalis,” jelas Fatahillah.
Ia menyebut sejumlah konsep hunian seperti tiny house, compact house, dan grow house kini semakin banyak digunakan dalam perencanaan rumah di kota besar. Ciri utama dari konsep tersebut adalah penggunaan ruang yang efisien, ruang tanpa sekat, serta fungsi ruang yang dapat berubah sesuai kebutuhan.
Menurut Fatahillah, fleksibilitas ruang juga menjadi kunci agar hunian tetap relevan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, ia menyarankan generasi muda mempertimbangkan untuk membeli lahan terlebih dahulu sebelum membangun rumah secara bertahap.
“Bisa saja beli di perumahan, asalkan beli tanahnya saja. Nah itu kan enak. Kalau memang mau dimaksimalkan kebutuhan ruang, anggaplah saya berkeluarga, punya anak dua, otomatis kan 5 tahun ke depan pasti punya kamar satu-satu,” katanya.
Meski demikian, mencari lahan di kota besar seperti Makassar tidak selalu mudah. Banyak lahan kosong yang tersedia justru berada di kawasan dengan kualitas lingkungan yang kurang baik.
Kondisi tersebut dapat berdampak pada kenyamanan tinggal, bahkan memengaruhi kondisi psikologis penghuni dalam jangka panjang. Karena itu, kualitas lingkungan dinilai sama pentingnya dengan desain rumah itu sendiri.
“Sebenarnya banyak lahan kosong, cuma bukan restorasi jatuhnya. Jadinya seperti membangun mulai dibongkar lagi. Kalau cari lahan begitu, otomatis yang pengaruh itu kualitas lingkungan lagi,” katanya.
Fatahillah juga menilai tren hunian fleksibel mulai memengaruhi desain perumahan yang dikembangkan oleh para pengembang. Konsep ruang terbuka atau open plan kini mulai diterapkan sebagai respons terhadap perubahan gaya hidup generasi muda.
Dalam konsep ini, ruang keluarga, ruang makan, dan dapur digabung dalam satu area tanpa sekat permanen. Model ini dianggap lebih sesuai dengan pola interaksi sosial Gen Z yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
“Dulu itu, orang senang kalau bertamu di rumah. Nah sekarang tidak. Lebih senang bertemu di luar atau mending nongkrong di depan rumahnya. Jadi, orang-orang tertentu yang bisa datang ke rumah itu seperti keluarga atau kerabat terdekat,” katanya.
Selain desain ruang, ketersediaan fasilitas pendukung di kawasan hunian juga menjadi pertimbangan penting bagi generasi muda dalam memilih tempat tinggal.
Menurut Fatahillah, perumahan yang dilengkapi fasilitas seperti ruang olahraga atau ruang komunal dapat meningkatkan kualitas hidup penghuninya. Hal ini membuat beberapa kawasan perumahan besar memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat perkotaan.
“Kalau tinggal di perumahan seperti Citraland itu kan pasti fasilitas penunjangnya ada. Seperti kolam renang, aktivitas sosialnya, working, tempat gym,” katanya.
Sejalan dengan perubahan pola hunian generasi muda tersebut, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah, menilai kecenderungan Generasi Z yang lebih memilih menyewa tempat tinggal juga menjadi fenomena yang banyak terjadi di kota-kota besar di berbagai negara.
Menurutnya, pilihan untuk menyewa hunian kerap dipengaruhi oleh mobilitas kerja yang tinggi serta fase kehidupan generasi muda yang masih dalam masa transisi, sehingga kebutuhan tempat tinggal yang fleksibel menjadi lebih relevan dibandingkan kepemilikan rumah tetap.
“Sebenarnya kalau fenomena perkotaan di seluruh dunia juga begitu karena orang itu dalam transisi, ketika dia kerja ya dia lebih baik nyewa,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kebutuhan hunian sewa di kota-kota besar perlu direspons dengan kebijakan yang tepat, termasuk memperkuat pasar hunian sewa sebagai alternatif tempat tinggal bagi masyarakat perkotaan.
“Salah satu alasannya adalah karena dia tahu pekerjaannya menuntut dia akan pindah dari satu tempat ke tempat lain. Jadi ya pasar sewa harus disiapkan alternatifnya,” pungkasnya.













