KabarMakassar.com — Masalah kesehatan mental semakin mengkhawatirkan, terutama di kalangan remaja. Berdasarkan survei nasional terbaru, hampir empat dari sepuluh remaja Indonesia mengalami gangguan mental, dan angka ini terus meningkat setiap tahunnya.
Psikolog klinis Tara de Thouars menyampaikan keprihatinannya dalam acara Media Workshop yang digelar BPJS Kesehatan, beberapa Waktu lalu. Dia menyebut data yang dirilis Kementerian Kesehatan menunjukkan situasi yang memerlukan perhatian serius.
“Angka percobaan bunuh diri bahkan mencapai 10 kali lipat dibandingkan kasus bunuh diri yang tercatat setiap bulan. Bahkan survei Indonesia National Mental Health yang dilakukan pada tahun 2024 menunjukkan data bahwa sebanyak 39,4 persen remaja mengalami masalah mental dan setiap tahun meningkat 20 hingga 30 persen,” terang Tara.
Dia menjelaskan bahwa tekanan hidup dan faktor lingkungan menjadi pemicu utama gangguan mental pada remaja. Faktor-faktor seperti beban akademik, persaingan di dunia kerja, hingga tekanan media sosial turut memperburuk kondisi ini.
“Tekanan ini memengaruhi kondisi emosi, pikiran, dan perilaku sehingga menghambat fungsi kehidupan sehari-hari. Sayangnya, stigma negatif masih kuat melekat di masyarakat, di mana orang dengan gangguan jiwa sering dicap sebagai lemah, kurang bersyukur, atau bahkan dianggap aib. Stigma ini membuat banyak individu memilih menyembunyikan masalahnya dan enggan mencari pertolongan,” tambahnya.
Tara juga menyoroti fenomena normalisasi gangguan mental di media sosial. Dia mengingatkan bahwa menganggap gangguan jiwa sebagai sesuatu yang “keren” bisa menyebabkan masalah menjadi tidak tertangani secara serius.
Tara mengimbau untuk tidak memberi label negatif kepada pengidap kesehatan mental, karena akan membuat orang takut untuk mencari bantuan.
Selain itu, berhenti menormalisasi gangguan mental sebagai hal biasa dan menganggap masalah mental sebagai sesuatu yang keren atau istimewa, karena membuat masalah tidak tertangani.
Dia mengajak masyarakat untuk mulai mengutamakan kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, perubahan sikap individu terhadap kesehatan mental akan membawa dampak positif bagi masyarakat secara luas.
“Sebelum kita mengharapkan keadaan menjadi lebih baik untuk diri sendiri dan orang sekitar, mulailah dengan menjaga kesehatan mental, karena tanpa kesehatan mental, apapun tidak akan ada artinya,” ucap Tara.
