KabarMakassar.com — Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia mengajak mahasiswa untuk menjadi pengusaha.
Hal tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah bertajuk 'Transformasi Ekonomi Melalui Hirilisasi dengan Kearifan Lokal' di Hotel and Convention Center Universitas Hasanuddin (Unhas), Jumat, (07/10).
Menteri asal Papua itu mengajak para mahasiswa untuk menjadi pengusaha yang menjanjikan hasil besar serta dapat mendorong ekonomi mandiri.
"Nah adek-adek semua hari ini ibu Pertiwi memanggil anak bangsanya menjadi pengusaha untuk mendorong ekonomi mandiri," pungkasnya, Jumat (07/10).
Alasan Bahlil mengajak para mahasiswa tersebut menjadi pengusaha tak lain untuk menghadapi ancaman perekonomian Indonesia yang diprediksikan akan mengalami tahun gelap pada tahun 2023 mendatang.
Menurutnya, tahun 2023 merupakan tahun gelap dimana ekonomi Indonesia terancam sehingga membutuhkan leadership yang memiliki kualitas dan kemampuan.
"2023 adalah tahun gelap. Indonesia membutuhkan leadership yang wow untuk mendapatkan secercah harapan," ungkapnya.
Dalam kegelapan ekonomi global yang dimaksud, setidaknya terdapat empat fase yang dilalui Indonesia.
Pada tahun 2017, 2018, hingga akhir 2019, terjadi perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat. Melalui hal tersebut terlihat fundamental ekonomi global di dua benua yang mengalami gejolak.
Bahlil menyebut sebelum perang antara kedua pihak ini mereda, telah muncul masalah baru lagi, yakni pandemi Covid-19.
“Belum selesai mengalami perang, muncul covid-19 melanda hampir semua dunia. Terjadi krisis kesehatan yang berdampak pada masalah ekonomi dan sosial. Tahun 2020, hampir semua negara pertumbuhan ekonominya negatif karena banyak pengangguran termasuk Indonesia,” ujarnya.
Memasuki tahun 2021, semua negara terus berpikir bagaimana mengendalikan Covid-19 dan memulihkan ekonomi. Namun, sebelum pemulihan ekonomi ini terealisasi, muncul perang antara Rusia dan Ukraina yang menyebabkan harga minyak tahun 2022 melonjak hingga US$ 30 per barel.
"Masuk fase ketiga, perang Ukraina dan Rusia. Dua persoalan besar yakni krisis pangan dan krisis energi yang Indonesia kita sudah kena dampaknya termasuk harga minyak dunia yang melambung tinggi mencapai 30-40 persen per barel," jelasnya
Atas dasar inilah mengapa Bahlil menyebut ekonomi global sedang dalam keadaan gelap.
Meskipun demikian, di semester pertama tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mencapai 5,44 persen dengan inflasi terjaga di bawah 5 persen jika dibandingkan dengan negara lain yang tergabung dalam G20. "Namun, ekonomi kita Indonesia masih lebih baik dari negara-negara lain," pungkasnya.













