Indeks
News  

Deep Learning Diterapkan, Makassar Hadapi Tantangan SDM dan Infrastruktur

Deep Learning Diterapkan, Makassar Hadapi Tantangan SDM dan Infrastruktur
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, (Dok: Sinta Kabar Makassar).

KabarMakassar.com — Pemerintah Kota Makassar mulai menerapkan program pembelajaran mendalam atau deep learning pada tahun ajaran 2025/2026 di seluruh satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah.

Program yang mencakup materi coding, numerisasi, dan literasi digital ini merupakan bagian dari kebijakan baru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menggantikan konsep Merdeka Belajar yang sebelumnya diterapkan secara nasional.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soelaiman, menjelaskan bahwa deep learning telah masuk dalam kurikulum nasional dan wajib diterapkan di seluruh sekolah.

Ia menekankan, pembelajaran ini tak hanya akan memperkaya konten pendidikan, tapi juga menyiapkan siswa menjadi individu yang adaptif terhadap teknologi dan mampu memecahkan masalah.

“Jadi ini memang kurikulum nasional yang baru. Sudah dalam bentuk petunjuk teknis. Seluruh sekolah akan menerapkannya mulai tahun ini,” kata Achi saat ditemui pada Selasa (22/07).

Meski program ini dinilai progresif, tantangan besar masih menghadang. Salah satunya terkait kesiapan infrastruktur digital di sekolah. Tidak semua satuan pendidikan di Makassar memiliki fasilitas laboratorium komputer yang memadai, jaringan internet stabil, maupun perangkat digital yang merata.

“Ini jadi tantangan tersendiri. Karena tidak semua sekolah punya laboratorium. Akses internet dan perangkat juga masih belum merata,” kata Achi.

Di sisi lain, integrasi pembelajaran berbasis digital tentu membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, khususnya para guru. Banyak guru belum memiliki keterampilan yang cukup dalam penguasaan coding maupun dalam mengaitkannya secara kontekstual dengan mata pelajaran lain.

Achi menuturkan bahwa selain infrastruktur, pihaknya juga menyoroti pentingnya pelatihan bagi guru agar mampu menyampaikan materi deep learning secara efektif. Kurikulum baru ini menuntut guru tidak hanya paham teknologi, tetapi juga mampu menyesuaikan cara mengajar sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan siswa.

“Banyak guru masih harus ditingkatkan kemampuannya, terutama dalam penguasaan teknologi dan coding. Ini bukan sekadar ganti isi kurikulum, tapi juga transformasi pendekatan belajar,” jelasnya.

Ia juga menyoroti adanya persepsi keliru di kalangan siswa yang menganggap coding hanya untuk anak-anak pintar. Menurut Achi, semua siswa punya peluang yang sama jika didukung oleh lingkungan belajar yang tepat.

“Masih banyak siswa yang menganggap coding itu hanya untuk yang pintar. Itu persepsi yang harus diubah. Kuncinya adalah akses dan pembinaan yang tepat,” tambahnya.

Dengan berbagai tantangan yang ada, Achi menegaskan Dinas Pendidikan Kota Makassar tengah mempersiapkan serangkaian langkah strategis. Di antaranya pelatihan guru secara intensif, peningkatan infrastruktur digital di sekolah, serta integrasi pembelajaran kontekstual dalam kurikulum.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan dalam membentuk karakter siswa yang siap menghadapi tantangan zaman.

“Harapannya dengan deep learning ini, anak-anak bisa berpikir lebih kritis, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan yang paling penting, mampu memecahkan masalah,” tandasnya.

error: Content is protected !!
Exit mobile version